MasukDubidubae... lanjut ya aku up double
Tiga hari ke depan jadwal Abra benar-benar padat.Ada diklat kedokteran berskala nasional yang melibatkan banyak rumah sakit besar dan Abra menjadi salah satu pembicara utamanya. Waktunya penuh, bahkan di akhir pekannya.Serayu menatap layar ponsel Abra beberapa saat hingga akhirnya mengembalikannya.“Saya belanja sendiri aja,” rajuknya.Nada suaranya terdengar kecewa meski berusaha agar terdengar biasa saja.Setelah itu Serayu langsung berbaring dan masuk ke dalam selimut membelakangi Abra tanpa bicara lagi.Abra mengembuskan napas pelan. Ia tahu istrinya sedih. Dan itu membuatnya semakin bersalah, padahal permintaan istrinya sederhana saja.Abra ikut naik ke atas ranjang lalu mendekat dari belakang. Tangannya perlahan melingkari tubuh Serayu dengan hati-hati.“Maafkan saya,” bisiknya pelan di dekat telinga istrinya.Serayu diam beberapa saat lalu akhirnya bersuara, “Sedih…” Serayu mengakui. “Padahal pengen pilih sama Mas juga.”Kalimat itu membuat dada Abra mengencang.Pria itu meme
Ezra menatap kemesraan kecil itu dalam diam.Cara Abra merangkul Serayu. Cara wanita itu bermanja pada suaminya. Bahkan langkah mereka yang berjalan berdampingan saja terasa terlalu menyakitkan untuk dipandang lama-lama.Perasaannya salah.Dan Ezra tidak tahu harus mulai dari mana untuk mengakhirinya. Lucu sekali, pikirnya pahit.Sekalinya jatuh cinta… ia justru jatuh pada seseorang yang tidak mungkin ia miliki.“Dokter Ezra," panggil seseorang.Ezra tetap menatap punggung Serayu yang semakin menjauh di lorong tanpa berkedip. Sampai sebuah lambaian tangan di depan wajahnya menyadarkannya.“Hellooo… dr. Ezra.”Suara riang bercampur heran itu membuat Ezra tersentak kecil lalu menoleh pada Amalia yang berdiri di sampingnya sambil mengangkat alis.“Ah… iya, Dok?” kejut Ezra.“Melamunin apa?” tanya Amalia sambil melirik ke lorong yang kini sudah kosong.Ezra tersenyum tipis lalu menggeleng pelan. Ia melihat lucunya raut heran di wajah Amalia.“Nggak ada.”Tatapan Amalia masih terlihat cur
“Dokter Ezra,” sapa Abra.Ezra cepat mengulurkan tangan, menjabat tangan Abra yang juga terulur menyambutnya. Sentuhannya sopan, tetapi entah kenapa terasa penuh tekanan.Abra bahkan bertindak seolah dialah tuan rumah di ruangan itu.“Silakan duduk.”Ezra menurut.“Bagaimana kabar Anda?” tanya Abra.Harusnya terdengar santai, tapi entah mengapa Ezra merasa terintimidasi oleh tatapannya.“Baik, Dok,” jawabnya hati-hati. “Bagaimana dengan dr. Abra?”“Luar biasa bahagia.”Tidak ada senyum saat Abra mengatakannya.Hanya tatapan dingin yang membuat dada Ezra semakin sesak.“Bu Riani, Mama saya, ingin membuat janji temu dengan dr. Ezra. Bisa?”Mendengar topik itu, ketegangan di dada Ezra perlahan melonggar.“Oh… tentu, Dok,” jawabnya cepat. “Dengan senang hati.”“Asisten Bu Riani akan menghubungi Anda.” Abra menyandarkan tubuhnya santai di kursi. “Nanti akan ada pertemuan dengan dr. Sebastian. Dokter yang sebelumnya menangani Bu Riani.” Ezra mengangguk fokus mendengarkan. “Anda bisa mempela
Serayu memukul pelan dada Abra mendengar ucapan suaminya. “Siapa juga yang tebar pesona,” protesnya. “Aahh… ternyata memang istri saya yang mempesona.” Abra mengeratkan pelukannya. Pria itu tak henti-hentinya mengecup puncak kepala kesayangannya. “Aduuhh… nggak tahan sama gombalannya,” kata Serayu, mendongak untuk mencubit gemas dagu suaminya. “Nanti show me hasil kontrol kemarin,” pinta Abra tiba-tiba seraya mengusap perut kesayangannya. Serayu langsung berusaha duduk perlahan. Ia meraih tas di atas nakas di samping ranjang lalu mengeluarkan ponselnya. “Ini,” katanya memperlihatkan potret hasil USG. “Mau kirim ke Mas, tapi lupa,” ringisnya. Abra menerimanya. Tatapan pria itu langsung melembut begitu melihat hasil USG bayi mereka. Senyum kecil tak lepas dari wajahnya. “Catatan dokternya nanti aja pas di rumah. Semuanya sehat. Baby-nya pasti tampan seperti papanya,” goda Serayu sambil bersandar lagi di dada Abra. Abra melebarkan senyumnya mendengar itu. Matanya mas
Cengkeraman itu tidak keras, tetapi tatapan Abra membuat Serayu ciut seketika. “Kamu milik saya, Rayu,” ucap Abra nadanya penuh penekanan. Tatapannya turun perlahan dari mata Serayu menuju bibir ranum wanita itu. Sorot matanya malam ini sangat posesif. Sebelum Serayu sempat membalas, Abra sudah lebih dulu menyambar bibir mungil itu. Kecupan itu dalam dan menuntut, membuat Serayu terkesiap. Jemari wanita itu refleks mencengkeram bagian depan jas Abra saat pria itu menyesap bibirnya. Serayu memejamkan mata, larut dalam pagutan mereka. Sampai seketika … Klik! Suara pintu yang terbuka membuat Serayu tersentak kecil. Abra sudah mendorong tubuhnya masuk ke dalam kamar hotel tanpa memutus ciuman mereka. Pintu kembali tertutup di belakang mereka. Kini tubuh Serayu bersandar pada dinding dekat pintu, sementara Abra masih berada begitu dekat di hadapannya. Napas keduanya sedikit tidak teratur. “Tidak ada yang boleh mengganggu milik saya,” gumam Abra di dekat bibir istrinya. “Saya akan
“Hanya itu saja?” ulang Abra. Serayu terdiam sesaat dengan raut wajah yang mudah sekali ditebak oleh Abra. Pria itu tahu betul kalau istrinya sedang menyembunyikan sesuatu. Tatapan Abra datar. “Talk to me later,” katanya. Serayu menelan ludahnya melihat perubahan raut wajah itu. “Kita bicara lagi nanti saat saya pulang,” lanjut Abra, kali ini lebih tegas. Serayu hanya mampu mengangguk menurut. Hening sesaat mengisi panggilan video mereka, lalu Abra kembali bersuara, “besok ada acara makan malam keluarga besar,” katanya. “Mama dan Papa nggak datang. Papa lagi di luar kota dan Mama nggak mau pergi.” Abra berhenti sejenak lalu menambahkan, “Mama juga nggak ngizinin kamu datang.” Serayu diam saja mendengarnya. “Nggak apa-apa, Mas–” “But, I’ll pick you up,” pangkas Abra. “Besok saya masih ada meeting sama klien sebelum pulang. Nanti saya hubungi lagi.” Serayu kembali mengangguk kecil. “Tidurlah, Sayang.” Nada suara Abra melunak sepenuhnya kali ini. Serayu tersenyum tipis sambil m
Malam itu, Abra memutuskan untuk tetap mengajak Serayu menghadiri acara keluarga. Katanya, sejak awal pernikahan, ia memang selalu membawa Serayu ke setiap pertemuan. Rasanya tidak ada alasan untuk tidak mengajak sang istri. Jika dulu semuanya terasa seperti sandiwara, kini mereka hadir apa adanya ‘
Malam itu, Abra dan Serayu datang dengan busana senada. Abra mengenakan kemeja hitam, lengan digulung sedikit, memperlihatkan tangan kekarnya. Serayu melangkah di sisinya dengan dress hitam yang jatuh anggun, tidak berlebihan, justru memancarkan aura cantik luar biasa. Keduanya tampak serasi, seolah
Flashback Malam itu, Abra mendengarkan rekaman yang Ryan rekam dengan rahang mengeras. Suara Aileen terdengar jelas lancang mengadu pada seseorang. Dari potongan pembicaraan itu, Ryan yakin Aileen sedang menghubungi ibu Abra, Riani. Mereka membicarakan kehamilan Serayu dan kegugurannya. Setiap kata
Serayu tidak langsung membalas pesan dari Riani. Sebaliknya, ia dan Abra memilih menelepon sang ibu. Abra yang lebih dulu membuka percakapan, barulah Serayu menyapa. Kali ini, Riani terdengar berbeda—datar, biasa saja tanpa nada ketus atau acuh seperti biasanya.Dengan hati-hati, Abra menjelaskan ba







