Malam kian larut, namun kelopak mata Gavin seolah enggan merapat. Ia berbaring kaku di atas ranjang king size yang empuk. Tempat yang seharusnya terasa seperti rumah, baginya tak lebih dari sel penjara yang dingin. Di sampingnya, Raina berbaring miring, menatapnya dengan binar mata yang memuakkan. "Mas belum tidur? Kepalanya sakit lagi?" tanya Raina lembut, tangannya terulur mengusap kening Gavin. Gavin sedikit menghindar, berpura-pura mengubah posisi tidur. "Hanya masih menyesuaikan diri dengan suasana kamar, Ra." "It's okay, Sayang. Kamu pasti akan cepat nyaman di sini, karena kamar ini adalah saksi bisu betapa besarnya cinta kita, Mas," Raina bangkit, menyalakan lampu tidur dan meraih sebuah album foto besar dari laci nakas. "Kalau belum bisa tidur, kamu mau lihat ini? Ini foto kita waktu bulan madu di Swiss. Kamu ingat kan? Kamu bilang, kamu mau kita punya rumah di sana suatu saat nanti," ucap Raina sambil menunjukan album foto mereka. Gavin bangun dari tidurnya dan menata
Read more