Langkah Sira terasa berat saat mengikuti Prabu menuju pelataran parkir. Di belakangnya, ia bisa merasakan tatapan tajam para staf bistro yang menempel di kaca jendela, dan ia tahu Mas Andre masih berdiri di sana dengan kepalan tangan yang tak kunjung mengendur.Prabu membukakan pintu mobil mewah hitamnya dengan gerakan yang terlihat sopan namun sebenarnya sangat memaksa. Sira masuk dengan enggan, diikuti Prabu yang segera duduk di kursi pengemudi. Begitu pintu tertutup, keheningan yang menyesakkan langsung menyergap kabin mobil yang kedap suara itu.Prabu menghela napas panjang, tangannya bergerak menyalakan mesin. Namun, sebelum tuas transmisi sempat digeser, Sira meletakkan tangannya di atas pergelangan tangan Prabu, mencegahnya."Kita bicara di sini saja," ucap Sira datar, suaranya bergetar menahan emosi.Prabu menoleh, menatapnya dengan kening berkerut. "Ra, di luar banyak orang. Kita cari tempat yang lebih tenang.""Aku bilang di sini saja!" Sira sedikit menaikkan nadanya. "Ini m
Read more