Saat hampir tengah malam, Luna terjaga dengan kondisi tubuh yang masih panas dan kepala pusing. Ia menggeliat di atas ranjang, lalu memiringkan tubuhnya sambil memeluk selimut. Matanya menatap kosong ke arah dinding. Pikirannya kembali pada sesuatu yang hilang hari ini.Hiasan rambut biru itu. Jari kecil Luna tanpa sadar menyentuh rambutnya sendiri yang kini kosong.“Hilang, bagaimana ini,” bisiknya lirih.Matanya terasa panas. Itu pemberian Rion, dan hadiah pertama yang ia dapatkan dari seseorang yang baik padanya. Saat Luna sedang memikirkan itu, matanya tiba-tiba menangkap sesuatu dari arah jendela.Kelap-kelip kecil. Awalnya satu, lalu semakin banyak.Luna mengerjakan mata. “Apa itu…?” Ia perlahan mencoba bangun. Meski tubuhnya masih lemah, tapi rasa penasaran membuatnya memaksa untuk duduk.Setelah kakinya menyentuh lantai, Luna berjalan ke arah jendela dan menyingkap tirai sedikit.Dan matanya langsung membesar.Di luar sana, di antara tanaman hijau dan bunga, puluhan kuna
Read more