Flap.Dirian membuka matanya.Pandangan pertamanya buram, berat, seolah dunia enggan kembali menerima dirinya. Suara doa yang terputus-putus menyerbu telinganya, asing, bergema, dan melelahkan. Di hadapannya, pendeta tua itu menatapnya dengan wajah tegang, bibirnya masih bergerak merapalkan mantra yang belum selesai. Di sekeliling mereka, beberapa pendeta muda dan para suci berlutut, tangan terkatup, doa mengalir tanpa henti.Air suci masih merendam sebagian tubuh Dirian di dalam bak batu itu.Dengan napas tertahan dan tubuh yang terasa asing, ia bangkit. Air mengalir turun dari bahu dan rambutnya, menetes ke lantai dengan suara pelan. Ia duduk di sana, kaku, diam dan tatapannya kosong, seolah jiwa yang seharusnya menyusul kembali… tertinggal di tempat lain.“Yang Mulia…” suara pendeta tua itu gemetar, antara lega dan ngeri.Dirian tidak menjawab.Wajahnya pucat. Matanya sayu tanpa fokus. Napasnya ada, namun dangkal, seperti seseorang yang secara teknis hidup, tapi telah kehilangan ses
Terakhir Diperbarui : 2025-12-08 Baca selengkapnya