Dirian bergerak cepat. Ia menarik selimut tebal, membungkus tubuh Selene yang dinginnya tidak wajar. Kulit wanita itu pucat, bibirnya kebiruan. Saat telapak tangannya menyentuh lengan Selene, Dirian merasakan betapa dingin suhu tubuhnya, terlalu dingin untuk seseorang yang masih hidup normal.“Kau terlalu lama di luar,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. Nada suaranya bergetar.Ia duduk di sisi ranjang, melepaskan mantel tebalnya, lalu menarik Selene lebih dekat ke dadanya. Ia memeluknya erat, menempelkan tubuhnya untuk berbagi kehangatan. Tidak ada keraguan, tidak ada gengsi hanya ketakutan yang telanjang.“Dengarkan aku,” ucap Dirian di dekat telinga Selene, suaranya rendah dan mendesak. “Jika kau terus seperti ini, tubuhmu bisa menyerah. Ini hipotermia.”Selene setengah sadar. Kelopak matanya bergetar, napasnya pendek dan tidak teratur. Ia tidak benar-benar mengerti semua kata Dirian, hanya merasakan ada seseora
Terakhir Diperbarui : 2025-12-17 Baca selengkapnya