Pagi masih terlalu dini. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan, embun menempel di mantel Dirian ketika ia menghentikan langkah di depan rumah Selene. Langit masih abu-abu pucat—waktu di mana orang-orang seharusnya masih terlelap. “Kukira semua masih tidur,” gumam Selene pelan, merapikan mantel di tubuhnya. Suaranya sedikit serak, entah karena dingin atau karena malam yang terlalu… panjang. “Seharusnya,” jawab Dirian singkat. Ia berdiri terlalu dekat. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menghilang semalaman. Selene melirik ke arahnya, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan ketika menyadari betapa hangat wajahnya. Dirian mengantar sampai ke teras. Tangannya sempat menahan pergelangan Selene sebentar, bukan untuk menarik, hanya memastikan. “Masuklah,” ucapnya rendah. Selene mengangguk. Ia melangkah naik satu anak tangga, “Hmm.” Suara itu membuat Selene membeku. “Menarik.” Selene berbalik perlahan. Di halaman, berdiri Odet, menyilangkan tangan dengan ekspresi p
최신 업데이트 : 2025-12-19 더 보기