Pagi itu halaman kecil di belakang asrama pelayan terasa hangat oleh cahaya matahari. Aroma teh herbal mengepul lembut dari cangkir-cangkir tanah liat yang dipegang Lamina, Luna, dan Aire. Mereka duduk santai di meja kayu panjang, tidak formal, tidak kaku, seperti orang-orang yang akhirnya bisa bernapas setelah sekian lama.Sig duduk di samping Luna, wajahnya sedikit memerah karena ejekan yang tak henti-henti. Di seberang mereka, Erick berdiri dengan sikap pasrah, sementara Aire tampak tenang, malah sesekali tersenyum kecil.Jay, Ulf, Peter, dan Edward mengelilingi meja itu, suara tawa mereka riuh.“Jadi,” kata Ulf sambil menyeringai, “sekarang kau harus izin dulu kalau mau keluar, ya, Sig?”Peter tertawa. “Bukan izin. Lapor.”
Terakhir Diperbarui : 2026-01-04 Baca selengkapnya