Jayreth menghela napas panjang, matanya menyapu lorong yang mulai dipenuhi bayangan pergerakan. Suara langkah kaki, gesekan senjata, dan gema benturan samar dari kejauhan bercampur menjadi satu, menciptakan suasana yang tidak lagi bisa disebut tenang.“Sepertinya…” ucapnya pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri, “ini memang sudah menjadi perang.”Tidak ada nada bercanda di dalam suaranya kali ini. Hanya pengakuan yang jujur terhadap apa yang sedang terjadi.Di sampingnya, Lucien tetap berdiri tegak. Tidak ada perubahan mencolok dalam ekspresinya. Tatapannya lurus ke depan, tenang, seolah kekacauan yang mulai menyelimuti kastil itu tidak cukup untuk menggoyahkan kendalinya.“Belum,” jawabnya singkat.Jayreth menoleh, sedikit mengernyit.Lucien melanjutkan dengan nada yang sama datarnya, “Selama semua ini masih terjadi di dalam kastil… ini belum bisa disebut perang.”Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap.“Jika tidak meluas ke luar,” tambahnya pelan, “ini hanya akan
Magbasa pa