Duke Raxen tidak lagi terdengar seperti manusia yang sama.Batuknya semakin dalam, semakin brutal, mengguncang seluruh tubuhnya tanpa kendali. Darah tidak hanya keluar dari mulutnya ia mulai merembes dari hidung, dari telinga, bahkan dari sudut matanya. Garis-garis merah itu mengalir tanpa henti, membasahi wajahnya, menetes ke leher, lalu jatuh ke kain yang sudah kotor oleh luka dan keringat.Tubuhnya melengkung di atas ranjang, otot-ototnya menegang, seolah ada sesuatu yang membakar dari dalam dirinya.“Panas…!” suaranya pecah, serak, hampir tidak terdengar utuh. “Aku—terbakar…!”Tangannya yang tersisa mencengkeram lehernya sendiri, lalu turun ke dada, mencakar-cakar kain seolah ingin merobek sumber rasa sakit itu. Napasnya terengah, pende
Magbasa pa