Pagi itu, mentari menembus tirai tipis di ruang kerja Lidya, menciptakan pola cahaya yang menari-nari di atas tumpukan berkas. Aroma kopi instan yang baru ia seduh menyeruak, sedikit mengusir sisa-sisa kantuk yang masih menempel. Seharusnya pagi ini terasa ringan setelah badai semalam, badai pengakuan yang justru membawa ketenangan. Lidya, dengan sweater rajut longgar, sedang mencoba fokus pada rekam medik pasien terbarunya saat ponselnya yang tergeletak di meja tiba-tiba bergetar, merenggutnya dari lamunan rencana tindakan medisnya. Ia mengabaikannya sebentar, mengira itu hanya notifikasi media sosial, tapi ponselnya bergetar lagi, kali ini lebih insistif. Lidya melirik, sebuah nama tertera di layar: Kevin. Nafasnya tercekat, insting lamanya hampir muncul. Nama itu adalah luka lama, tapi entah kenapa, kali ini Lidya tidak merasakan debar jantung yang tak karuan. Ia hanya meraih ponsel itu dengan tenang, ekspresi wajahnya datar, dingin, dan nyaris hampa.Membuka pesan dari Kevin, Lidy
Last Updated : 2026-01-23 Read more