Kaiden melangkah masuk ke lobi hotel megah milik keluarganya, cahaya kristal dari lampu gantung memantulkan kemewahan yang tak terbantahkan. Setiap gerakannya penuh kendali, wajahnya dingin tanpa secuil senyum. Di ujung ruangan, Viola menatapnya dengan mata berbinar, bibirnya tersungging senyum manis penuh harap. "Kak Kaiden, kamu tampan sekali," bisiknya lirih, suara penuh cinta yang seakan ingin meruntuhkan tembok beku di dada Kaiden.Namun, Kaiden sama sekali tak melirik ke arahnya. Tubuhnya tegap, aura kekuasaan terpancar dari setiap helaan nafasnya. Keke, ibunya, dengan hati-hati meraih tangan Kaiden, mencoba menjalin kehangatan, namun segera ditolak dengan tegas. Tangan kuat Kaiden menepis lembut namun pasti, seolah mengatakan bahwa ia tak butuh belaian."Aku setuju bertunangan dengan Viola," suaranya dalam dan menusuk udara, penuh amarah yang tersembunyi. "Cepat, berikan kantong darah yang kamu sembunyikan pada Alina." Kalimat itu keluar dengan dingin, tanpa sedikit pun
Last Updated : 2026-01-27 Read more