Dada Kaiden naik turun, hatinya begitu sakit karena sikap Alina, hal itu sontak membuatnya kehilangan akal. Tiba-tiba Kaiden merunduk mendekat, tanpa peringatan, bibirnya menekan bibir Alina dengan paksa. Detak jantung Alina melonjak liar, wajahnya membara merah, tubuhnya berusaha keras menolak dengan tangan yang gemetar mencoba mendorong Kaiden menjauh. Namun, pikirannya kacau, otak dan tubuhnya seperti tidak sinkron. Di balik penolakannya, ada getaran aneh yang menyusup—rasa aman dan hangat yang tak pernah ia sadari sebelumnya. Piring yang ada di tangannya jatuh, dan pecah ke lantai, makanan pun berserakan. Tapi Kaiden tak peduli. Apalagi saat melihat respon Alina yang begitu menyambut ciuman liatnya, ia akhirnya memiliki sebuah cara. Dengan pelan, bibir Alina mulai membuka, membalas lumatan Kaiden, membiarkan dirinya terhanyut dalam ciuman yang tiba-tiba berubah mesra itu. Tangan Kaiden dengan cekatan menyusup ke balik baju rumah sakitnya, menemukan kehangatan yan
Last Updated : 2026-02-02 Read more