LOGINAlina memegang tangan Kevin, "kamu nggak boleh menyerah, kamu harus semangat sembuh."Kevin tidak menolak sentuhan Alina. "Semangat? Sudah tidak ada alasan lagi untukku bersemangat, aku sudah nggak punya tujuan lagi untuk hidup."Alina merasa sedih, saat melihat Kevin putus asa seperti ini, ia tidak menyangka orang yang paling bersemangat dalam hidupnya akan mengalami fase seperti ini. "Kevin, apakah kamu nggak ingin menjemput kebahagiaan dengan menikah dan memiliki anak?" Tiba-tiba Alina teringat dengan ayah Kevin. "Kalau sekarang kamu merasa bingung dengan hal apa yang bisa membuatmu semangat dalam menjalani hidup, coba ingatlah ayahmu!!"Saat mendengar ucapan Alina yang menyuruhnya semangat, ekspresi Kevin sedikit senang. Namun, ekspresinya berubah murung setelah Alina membahas ayahnya. Alina juga melihat ekspresi perubahan Kevin. "Apakah barusan aku salah bicara?" Gumam Alina dalam hati. "Ayahku selama ini diam-diam selingkuh dengan ibunya Nolan, faktanya aku dan Nolan saudara
Setelah masuk ke dalam rumah sakit. Alina berdiri di sudut lorong rumah sakit yang berkilau dengan lampu kristal, menatap ruang inap VVIP tempat tubuh Risma terbaring. Hatinya bergemuruh, campuran antara cemas dan curiga. Semula ia mengira Risma akan segera ditangani di UGD seperti pasien lainnya, tapi kenyataannya berbeda. Tubuh Risma langsung dibawa ke ruang khusus, tanpa prosedur yang biasa ia ketahui. Langkah kaki Victor terdengar mendekat, suara yang selalu membuat Alina merasa tak nyaman. Tatapan mata Victor yang tajam dan dingin menusuk setiap kali mereka bertemu. "Alina, apa kabar?" sapa Victor dengan nada yang sarat permusuhan, seolah menyembunyikan sesuatu di balik senyum dinginnya.Alina mengangkat wajah, berusaha menahan amarah yang menggelegak. "Baik," jawabnya singkat, suara yang dipaksakan tetap tenang. Matanya tak lepas dari sosok Victor yang berdiri tegap di depan pintu ruang inap, seolah mengawasi segala gerak-gerik di sana. Di balik ketenangannya, Alina men
Wajah Risma semakin memucat, tiba-tiba Alina merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan Risma. Ia pun memegang dahi Risma. "Tubuhnya sangat dingin, aku harus memberitahu Nolan," gumam Alina. Lantas ia pun pergi meninggalkan pondok untuk mencari Nolan dengan masuk ke dalam rumah. Baru memasuki rumah, ia merasa seperti kembali ke rumah lamanya. Bukan hanya desain rumahnya yang mirip, tapi dari warna cat dan tata letak perabot, semuanya terlihat sama. Tak berselang lama, Nolan muncul. "Apa yang terjadi?" Tanya Nolan, seperti bisa menebak apa yang terjadi. Alina langsung menjelaskan semuanya. "Kamu kembali dulu, temani Risma. Aku akan siapkan mobil dan barang bawaan Risma," kata Nolan, tanpa menunggu jawaban Alina, ia pergi dari tempat itu begitu saja. Banyak pertanyaan yang mengganjal dalam hati Alina, "apa yang sebenarnya terjadi? Apakah Risma sering mengalami hal seperti ini, kenapa Nolan tidak terlihat terkejut?"Alina pun buru-buru kembali ke pondok. Tak berselang lama, No
Hati Nolan terasa sakit saat Alina melontarkan pertanyaan itu. Ia enggan menjawab, lalu memilih mengalihkan pembicaraan. "Aku akan masuk ke dalam untuk memasak makan malam. Kamu temui Risma di taman belakang," kata Nolan tanpa menunggu jawaban Alina, lalu segera meninggalkan tempat itu. Alina, yang sejak awal sudah curiga pada Nolan, tak ingin mengikutinya. Ia merasa Nolan masih menyimpan perasaan padanya, dan muncul rasa was-was jika pria itu memiliki niat lain, bahkan memiliki niat untuk rujuk. Namun, Alina yakin sejak awal pernikahan hingga sekarang, perasaannya pada Nolan tak pernah berubah. Ia hanya merasa nyaman dekat Nolan karena kebiasaan sejak kecil, nyaman sebagai teman yang suka bersama, bukan sebagai sepasang kekasih yang saling mencintai. "Mungkin saja sekarang Vino ada urusan keluar negeri, mengingat Risma sedang hamil. Jadi mungkin Vino menitipkan Risma pada Nolan," gumam Alina, masih berpikiran positif tentang rumah tangga Risma. Ia melangkah gontai menuju
Mendengar ucapan perpisahan dari Alina, Kaiden merasa jantungnya seperti di remas begitu kuat. Rasanya sungguh sangat menyakitkan. Kaiden berjalan mendekat, dengan tangan yang gemetar ia memegang tanah Alina, "bisakah kamu memberikan kesempatan padaku?" "Ku mohon hanya kali ini saja." Alina langsung menolak dengan tegas permintaan dari Kaiden, setelah itu meninggalkan ruangan itu begitu saja. "Kenapa jadi begini? Apa yang salah?" Gumamnya dengan air mata yang terus mengalir dari kedua pelupuk matanya. Ia tidak menyangka, Alina benar-benar marah dan tidak mengasihani dirinya. Kaiden tidak berniat mengejar, karena ia tahu hal itu malah akan membuat Alina semakin ingin menjaga jarak darinya. Tak berselang lama Renata datang, untuk melaporkan keadaan Keke. "Jadi sudah nggak ada yang bisa kita lakukan?" Tanya Kaiden dengan suara putus asa. Renata menghela napas, lalu menjawab tanpa ekspresi. "Sudah tidak ada." "Siapa yang terlibat?" Tanya Kaiden. Ekspresi Renata sedikit
Alina keluar dari dalam kamar mandi, ia datang ke mansion ini memang berniat untuk berpamitan dengan Kaiden. Namun, setelah bertemu dengan Nolan, ia malah teringat dengan Risma. Lebih dari sebulan, ia sama sekali tidak berkomunikasi dengan Risma. Ia ingin sekali menanyakan kabar Risma. Risma juga hamil seperti dirinya, Alina tiba-tiba membayangkan betapa bahagianya Risma sekarang ini. Mengingat Vino orang yang hangat dan begitu mencintai Risma. Setelah mengelilingi mansion, ia menemukan Nolan yang sedang berdiri di halaman belakang depan taman. Nolan nampak fokus menatap bunga-bunga yang bermekaran. "Nolan," panggil Alina. Sementara Nolan tidak menjawab, karena pikirannya melayang kemana-mana. Apalagi saat bertemu Alina tadi, dan melihat perut Alina yang sudah membesar. Ia teringat saat awal menikah dengan Alina, tepatnya waktu malam pertama. Setelah puas saling menghangatkan, Alina terus mengatakan kalau ingin segera punya bayi dan memberikan gambaran betapa bahagianya saat
Nolan melangkah keluar dari kamar hotel dengan wajah yang penuh ketegangan. Matanya merah, menunjukkan kurang tidur dan beban berat yang menghimpit pikirannya. Ia segera meraih ponsel di saku jasnya dan menekan nomor Gio dengan jari yang sedikit gemetar. Suara malam yang hening seolah menambah b
Dengan gaya nempel tembok, dia menekan punggung Risma ke dinding kamar, kedua tangannya mencengkeram pergelangan tangan istrinya seolah tak ingin melepas. Vino mulai melepaskan celana pantai yang menempel di tubuhnya. Milik Vino sudah bangun dan mengeras, ia memasukkan miliknya ke dalam kupu-k
Vino melangkah masuk ke dalam bar dengan napas yang sudah memburu, matanya langsung menangkap pemandangan yang membuat darahnya mendidih—Risma duduk di antara dua pria, salah satunya jelas bukan dirinya. Tanpa pikir panjang, ia mengeluarkan ponsel dari saku dan dengan cepat mengabadikan momen Alin
Kaiden melangkah mondar-mandir di dalam kamar mewahnya dengan langkah berat, dadanya sesak oleh amarah yang tak tertahankan. Ponselnya telah di sita ibunya, hal itu membuat langkahnya untuk kabur semakin kesulitan. Jujur saja, sekarang ini merindukan sosok Alina. Matanya menatap kosong ke din







