LOGINWajah Alina memucat. "Bukankah kita sekarang bertemu untuk melakukan transaksi?" Kata Alina dengan suara lembut seraya menekan amarahnya yang sudah membucah. Namun, Alina menyadari, kalau dia malah, ia malah semakin memprovokasi Liam. Makanya, sebisa mungkin transaksi ini harus berjalan secara profesional. Bayangan wajah putranya yang polos dan suaminya yang lemah terus menari-nari di benak Alina, membuat dadanya sesak setiap kali ingatan itu muncul. Matanya yang berkaca-kaca menatap tajam ke arah Liam, yang justru tertawa dingin, seolah semua penderitaan Alina hanyalah hiburan baginya. "Ternyata dari dulu kamu memang tak berubah, Alina. Masih polos, masih berharap penawar racun itu cukup untuk menyelamatkan suamimu," ejek Liam sambil melangkah mendekat, suara tawanya menggetarkan ruangan yang sunyi. "Kalau cuma urusan transaksi, mana mungkin aku membawamu ke vila terpencil di tengah hutan ini. Aku ingin kau mengandung anakku. Setelah itu, aku akan melepasmu. Aku tak butuh dua
Pagi itu, sinar matahari yang masuk melalui jendela besar kamar mansion menyapu lembut wajah Alina. Dengan tangan gemetar, ia mendekat ke ranjang bayi mungilnya yang tertidur pulas. Bibirnya menempel pelan di pipi halus yang baru sebulan ia lahirkan, terasa hangat dan rapuh di bawah sentuhannya. Air mata mulai mengalir, menggenang di sudut matanya. "Maafkan ibu, aku harus meninggalkanmu," bisiknya penuh sesak, suara serak oleh emosi yang tertahan. Tatapannya terus terkunci pada bayi laki-laki yang sangat mirip dengan suaminya. Hatinya remuk, rindu dan ketakutan bercampur menjadi satu. Tatapannya beralih ke arah suaminya, Kaiden, yang terbaring lemah di ranjang sebelah, tubuhnya dilingkupi alat medis yang tak henti berdengung dan berdenyut.Alina mendekat, mencium dahi Kaiden dengan lembut. "Suamiku, ku doakan keselamatan mu ... Aku mencintaimu," ucapnya lirih, seolah ingin menanamkan harapan terakhir di dalam hatinya yang rapuh. Matanya menahan perih saat menatap sosok pria yan
Hari berlalu di mansion Vino. Alina terbangun dengan mata yang masih berat, napasnya terengah saat menyadari betapa rindu dan cemasnya ia pada Kaiden yang terbaring kritis pasca operasi. Suara lembut Vino menarik perhatiannya. "Alina kamu sudah bangun?"Alina memegang kepalanya, "Vino, aku ingin bertemu Kaiden sekarang," suaranya serak, mencerminkan kegelisahan yang menggerogoti hatinya.Vino, yang duduk santai di sofa sambil menggendong bayinya dengan penuh kelembutan, mengangguk pelan. Tatapannya tenang, menenangkan, seolah ingin memberi kekuatan pada Alina. "Aku akan mengantarmu," ucapnya dengan suara lembut namun pasti.Lalu Vino menyerahkan bayinya pada pengasuh yang sudah siap siaga di sana. Alina mencoba bangkit, tubuhnya gemetar karena kelelahan dan kecemasan. Namun, tangan Vino dengan sigap menahan dan membimbingnya duduk kembali di kursi roda. Sentuhan itu terasa hangat, penuh perhatian. "Tenang dulu, Alina. Bayimu alergi susu sapi, aku sudah dapat ibu susu yang coco
Suasana tiba-tiba berubah tegang. Mata Alina membesar, terpaku pada pemandangan yang mengerikan di depan matanya. Di dalam mobil mewah yang bergetar hebat akibat dentuman peluru dan ledakan.Mata Alina terpaku pada suaminya. Kaiden terkulai dengan luka tembak di dada. Darah segar mengalir deras dari sudut bibirnya, membasahi kemeja putih yang dulu tampak rapi. Jantung Alina seolah berhenti sejenak, napasnya tercekat dalam dada.Dengan suara serak penuh kepanikan, Alina meraih gagang pintu, niatnya jelas untuk keluar dan menolong Kaiden, meski bahaya mengintai di luar. Namun, tangan Dylan menahan pergelangan tangannya dengan kuat namun lembut. "Nyonya, ini sangat berbahaya," ucap Dylan dengan nada tegas tapi penuh kekhawatiran, matanya menatap dalam ke arah Alina.Tangis tertahan pecah saat Alina menatap wajah suaminya yang memucat. "Kaiden sudah berjanji akan melumpuhkan musuh yang mengebom mansion… Kenapa dia malah tertembak?" suaranya pecah, air matanya mulai menetes, membasa
Alina dengan hati-hati meletakkan bayinya yang masih terlelap ke dalam tempat tidur bayi yang terpasang di mobil mewah itu. Matanya yang lelah tak bisa menyembunyikan kekhawatiran saat melihat dahi Kaiden berdarah, bekas benturan yang belum sempat ia bersihkan. Dengan gerakan lembut, Alina mengusap luka itu menggunakan saputangan kecil sambil tatapannya sesekali melirik ke arah mansion yang kini hancur berantakan, bagian depan dan tengah rumah mewah itu telah berubah menjadi tumpukan puing akibat ledakan bom musuh."Dengan semua ini, suamiku," suara Alina bergetar tapi penuh tekad, "aku tidak peduli seberapa berat perjuangan kita nanti. Setelah ini, kalau kamu benar-benar bisa menaklukkan Liam Arnold, aku ingin kamu menguras seluruh hartanya. Kita harus mengganti mansion kita. Jangan biarkan mereka menginjak-injak kebanggaan kita."Kaiden mengangkat kepala, tersenyum kecil dengan tatapan penuh keyakinan. Suaranya rendah dan mantap, "Renovasi itu receh, sayang. Aku sudah punya renca
Waktu terus berlalu, sebulan terlewati penuh kebahagiaan oleh Kaiden dan Alina. Hari ini adalah acara syukuran bayi mereka. Seiring detik-detik menuju acara syukuran, mansion megah Kaiden berkilauan diterpa cahaya kristal dan lilin yang berbaris rapi di sepanjang lorong. Alina, dengan wajah yang kini tenang dan anggun, mengenakan gaun sutra berwarna pastel lembut yang mengalir menutupi tubuhnya yang sudah pulih. Ia duduk di kursi emas berukir di tengah ruangan utama, bayi kecilnya tertidur lelap di pelukannya. Senyum tipis menghiasi bibirnya saat para bangsawan kelas atas bergiliran mendekat, dengan senyum penuh kepura-puraan dan tatapan penuh perhitungan. Mereka berbisik manis, melontarkan pujian yang terdengar seperti duri tersembunyi, berusaha mendapatkan perhatian Kaiden yang berdiri tegap di samping Alina, sosok pria berwibawa dengan tatapan dingin yang memancarkan kekuatan dan kendali.Udara terasa tegang, namun gemerlap kemewahan dan musik klasik menutupi gelombang kecema
"Kau ingat kata sakit Alina? Apakah kau itu lupa? Bagaimana Dika menyiksamu ... " Bisik Kaiden dengan seringai yang menyeramkan. Ekspresi wajah Kaiden berubah-ubah, sungguh hal itu membuat Alina ketakutan. Alina memasang ekspresi wajah yang sangat lembut, berharap kali ini Kaiden akan mudah luluh
Alis Kaiden mengerut setelah mendengar ucapan ibunya. Ia ingat, jika sebelum orang tua Alina meninggal, keluarga Alina termasuk keluarga berada. Kaiden bertanya memastikan, "Dulunya kakek Alina hakim agung? Soalnya kalau bisa memvonis pengusaha kelas atas, seharusnya jabatan hakim agung yang dia
Kedua tangan Dika terkepal, ia malah menarik Alina dalam pelukannya. "Mulai sekarang kamu nggak boleh memikirkan pria lain selain aku!" Kata Dika posesif. Alina menjauhkan tubuh Dika. "Hubungan kita hanya di dasari kesepakatan, aku harap kamu bisa mengerti dan tidak melakukan hal yang melampaui
Alina mendorong tubuh Dika. Dika yang batinnya terguncang karena kehilangan adiknya, di tambah sikap kedua orang tua kandungnya yang begitu mengecewakannya. Membuat Dika sekarang ini benar-benar kehilangan akal. Dika malah semakin terprovokasi karena penolakan Alina. Tangan Dika mulai menj







