"Mas, aku nggak apa-apa," ucap Syafana saat melihat wajah tegang Ivander.Matanya tak beranjak dari sosok Syafana yang terlentang, wajahnya masih terlihat pucat meski sudah diberi obat pereda nyeri. Tangan kirinya, yang sempat menopang Tuan Alexander, tertutup perban tebal.“Kenapa kamu ceroboh sekali, Syafana?!”Suaranya keluar keras, tapi tertekan, tak mau menggangu orang lain. Ivander menggigit bibir dalam, matanya menyipit menatap tangan istri yang terluka. Dia ingat betapa cepat Syafana berlari saat Tuan Alexander pingsan, tidak ada ragu, tidak ada pikiran untuk dirinya sendiri, padahal ia sedang mengandung dan kehamilannya masih rawan.“Kamu melindungi Papa tanpa mempedulikan keselamatan kamu yang tengah hamil,” katanya lagi, suaranya mulai bergoncang. “Sampai-sampai, tanganmu dijahit karena terluka!”Syafana mendongak, tatapannya nanar. Tapi, seulas senyuman manis tergambar jelas. “Aku tadi bergerak spotan karena takut Tuan Alexander terluka, Mas.”Ivander menghela napas panja
Last Updated : 2025-12-16 Read more