ログインSuasana makin kacau saat Gary dan Handi berhasil masuk ke dalam gudang. Fokus anak buah terbelah. "Sialan, bagaimana mereka bisa masuk?" geram Arman yang masih berusaha keras mengangkat Darmawan. Tubuh tua itu berat, ditambah Darmawan mulai lemah, membuat bebannya makin berat. "Ah, angkat aku, Arman!" "Aku sudah berusaha, Ayah!" "Kalian yang lain, cepat singkirkan para penyusup itu!" Darmawan masih bisa memerintah dengan penuh amarah sekalipun seluruh tubuhnya sakit. "Baik, Pak!" Para anak buah masuk dalam perkelahian, sedangkan Arman membantu Darmawan kembali ke kursi rodanya. Sementara di atas sana, Rahmat masih berdiri di balkon dengan tangan yang terikat. Dua anak buah masih memeganginya, tapi melihat bagaimana situasi kacau, satu anak buah langsung ikut turun membantu. Hanya tinggal satu pria yang berdiri di samping Rahmat dan Rahmat tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. "Mati kau!" seru Rahmat yang langsung mendorong keras pria itu dengan bahunya. "Akhh!" "Brengse
Elisa tetap memberontak saat akhirnya Luki membawanya masuk ke dalam gudang. "Lepaskan aku, Luki! Kau tega sekali! Apa kau tidak punya hati, hah? Kau juga dilahirkan dari seorang ibu, Luki! Dan aku sedang hamil, aku sedang menjaga anakku di dalam sini." Ekspresi Luki tetap datar. "Aku hanya menjalankan perintah, Bu." "Perintah yang akan membawamu ke neraka! Turuti saja dan akan kupastikan hidupmu tidak akan pernah damai! Itu kutukan dariku!" geram Elisa dengan hati yang sangat sakit. Luki sempat terdiam sejenak, sebelum ia meninggalkan Elisa tanpa kata. Luki pun mengunci pintunya sampai Elisa makin histeris. "Luki! Luki, buka pintunya! Luki!" Elisa berlari ke arah pintu karena memang kakinya tidak terikat, hanya tangannya saja. Dengan sikunya ia berusaha menekan gagang pintu, tapi terkunci. "Luki, buka pintunya, Brengsek! Buka pintunya!" teriak Elisa sambil sesenggukan. Elisa pun jatuh terduduk di lantai dan bersandar di pintu. "Ya Tuhan, akan jadi seperti apa malam ini, apa
"Akhh, apa yang kau lakukan, Wira? Apa yang kau lakukan?" pekik Hilda kaget dan refleks. Hilda tahu itu bensin karena baunya sangat menyengat. Hilda juga tahu bisnis kotor Wijaya Group sering dilakukan di tempat ini. Wira yang mendengar suara Hilda langsung menoleh kaget dan membelalak. "Apa yang kau lakukan, Hilda?" "Apa kau gila? Kau mau membakar semua orang, hah?" Alih-alih takut, Wira malah tertawa. "Kau masih peduli pada semua orang di dalam, hah? Bukankah aku sudah menyuruhmu pergi tadi? Aku memberimu kesempatan kabur, jadi kaburlah dan tidak usah ikut campur masalahku!" Wira menuangkan bensin makin banyak ke bagian yang lain sampai Hilda sedikit mundur takut terkena cipratan bensinnya. "Bau sekali, Ibu! Bau sekali! Aku tidak tahan, ayo kita pergi dari sini!" Susan panik menarik Hilda, tapi Hilda malah mematung di tempatnya. Mendadak ia setuju pada Wira kalau semua orang di dalam sana sudah tidak ada hubungan dengannya. Perlahan semua masa lalu berbaris rapi di ingatannya
Hilda tidak pernah menyangka ia akan melihat Wira di sana, diserang oleh anak buahnya sendiri sampai Wira mati-matian melawan. "Itu Om Wira kan, Ibu? Itu Om Wira?" pekik Susan tertahan. "Iya, Susan! Dan orang yang melawannya adalah anak buahnya sendiri." "Bagaimana bisa, Ibu?" "Tentu saja bisa kalau Darmawan brengsek itu yang memerintahkan." Susan membelalak menatap Hilda. "Grandpa? Maksud Ibu, Grandpa yang mau membunuh Om Wira? Tapi mengapa? Selama ini Om Wira adalah orang kepercayaannya." "Ibu sering mendengar Darmawan brengsek itu mulai mengeluh tentang Wira. Sepertinya Wira sudah tidak bisa diandalkan lagi. Mungkin Wira sudah tua. Tapi ayo!" Hilda dan Susan sejak tadi mengintip. Hilda pun berdiri dan berniat melangkah, tapi Susan menghentikannya. "Ibu mau apa? Kita bisa ketahuan, Ibu!" "Ibu akan menyelamatkan Wira agar dia berhutang pada kita." Susan mengernyit tidak setuju. "Apa? Untuk apa Ibu menyelamatkan Om Wira? Tidak ada untungnya buat kita karena Ibu tahu sendiri
Bagaikan disambar petir, Leo langsung lemas mendengar semuanya. Elisa? Elisa adalah anak yang diselamatkan kedua orang tuanya sampai mereka akhirnya meninggal?Perasaan Leo tidak bisa dijelaskan. Sebagaimana ia berusaha untuk tegar dan mencerna semuanya, ia tetap tidak bisa berpikir. Semua terlalu mengejutkan dan mengerikan. "Tidak mungkin! Tidak mungkin!" lirih Leo yang alih-alih marah malah lemas."Kalian pasti berbohong dan mencoba mempengaruhi aku kan? Kalian pasti berbohong! Pak Rahmat, kau sudah bersembunyi selama belasan tahun dan kau muncul lagi hanya untuk menjadi pembohong, hah?" bentak Leo, kali ini mulai marah lagi. Air mata Rahmat ikut menetes, ia bisa memahami perasaan Leo karena ia juga sakit hati melihatnya. Bagaimana tidak? Rahmat melihat semuanya mati terbakar tepat di depan matanya sendiri. "Aku sudah bersumpah pada istriku, hanya akan mengatakan kebenaran, Pak Leo. Maafkan aku. Tapi semuanya tidak akan terjadi kalau bukan karena Darmawan, Arman, dan Wira. Mereka
Rahmat menggeleng. Ia menatap Elisa dan Leo secara bergantian. Untuk sesaat, tidak tahu apa yang harus diucapkan. Leo sendiri mendadak diangkat berdiri oleh para anak buah sampai Leo bisa menatap Rahmat dengan lebih jelas. "Apa maksudnya ini? Apa ada cerita yang belum aku tahu? Katakan padaku! Katakan padaku sekarang!" bentak Leo. Rahmat menelan salivanya. Tatapannya masih goyah. "Itu ... itu ...." "Langsung saja ceritakan siapa yang membuat Anton dan Lily mati, Rahmat! Kau tahu sendiri seharusnya Anton dan Lily bisa selamat dari api, tapi mereka memilih menyelamatkan seseorang, itu yang membuat mereka akhirnya mati dilalap api kan?" Jantung Leo nyaris meledak saking debarannya terlalu kencang. Tubuhnya gemetar memikirkan kemungkinan itu. Siapa yang diselamatkan oleh orang tuanya sampai membuat mereka tidak sempat menyelamatkan diri? "Siapa? Apa itu benar? Ada yang diselamatkan orang tuaku sampai mereka tidak sempat keluar? Tidak! Tapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa kau yang
Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar
Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya
"Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr
"Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng







