"Aku keluar untuk menyambut anda, tapi ternyata anda sudah masuk ke lift," ibu menjelaskan dengan antusias.“Maaf kalau kedatanganku sepagi ini mengganggu,” kata pria itu dengan nada hangat. “Aku kebetulan sedang ada urusan di sekitar sini. Jadi kusempatkan mampir.”Ibu langsung tersenyum lebar, terlihat sangat senang.“Tidak sama sekali,” jawabnya cepat. “Kami justru merasa terhormat.”Dia bahkan buru-buru mengambil bingkisan dari pria itu dan meletakkannya di meja, samping tempat tidurku.“Ya tuhan, Anda bahkan repot membawa sesuatu. Terima kasih banyak.”Aku menyipitkan mata, mengamati mereka berdua. Sejak kapan ibu begitu akrab dengan pria yang bahkan tidak kukenal?Lalu tiba-tiba sesuatu terlintas di kepalaku.Jangan-jangan…“Silakan duduk dulu, Tuan,” kata ibu sambil menggeser kursi ke samping tempat tidurku.Pria itu tersenyum ringan.“Jangan memanggilku terlalu formal,” katanya santai. “Panggil saja Max. Atau Maxim.”Aku langsung tercekat.Nama itu.Jantungku berdetak lebih ce
Leer más