Dia memperdalam ciuman itu dan membuatku makin terhanyut. Tanganku merayap naik ke tengkuknya. “Kau benar-benar akan membuatku lupa waktu,” erangku lemah.“Biarkan saja,” bisiknya di sela desahan napas yang kian memburu. Aku menarik wajah. Mencoba mengatur napas yang kacau. Dia ikut berhenti, matanya menatapku lagi, seakan mencari sesuatu di mataku.“Apa?” tanyaku pelan.“Aku hanya ingin mengingat wajah ini,” katanya jujur.Aku tersenyum tipis. “Wajahku tidak akan ke mana-mana.”“Dunia bisa berubah cepat,” balasnya pelan. “Tapi pagi ini milik kita.”Aku memutar bola mata. Itu terdengar seperti alasan agar dia bisa kembali menciumku, lebih dalam sedikit, namun tetap terkendali. Tangannya menyusuri punggungku, berhenti di pinggang, tidak lebih rendah.Aku menghela napas ketika dia akhirnya mundur beberapa senti. Benar-benar mundur.“Kalau kita tidak berhenti sekarang, kau sungguh akan terlambat.” Aku berkata sambil tersenyum miring.Sam menghela napas berat, pura-pura kecewa. “Sayang
Dernière mise à jour : 2026-02-28 Read More