Inicio / Fantasi / Insinyur Termalas Dari Dunia Lain / Chapter 165 The Grey Gentleman

Compartir

Chapter 165 The Grey Gentleman

Autor: Shoera_moon
last update Última actualización: 2026-02-25 20:36:04

"Dan sebagai imbalannya," lanjut suara itu, seolah membaca pikirannya, "aku akan menunjukkan kepadamu jalan jiwa Isabella."

Dunia berhenti.

Alexander, yang tadinya sudah pasrah menerima kematian, tiba-tiba merasakan semburan energi yang tidak pernah ia rasakan selama empat puluh tahun terakhir. Harapan.

"Kau... kau bisa?" suaranya bergetar hebat. "Kau tahu di mana jiwanya?"

"Jiwa Isabella tidak pernah tenang, Alexander. Sama sepertimu, ia juga terikat oleh janji. Janji yang ia ucapkan padamu di
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 194 Kepentingan Keluarga

    Perjalanan yang biasanya terasa singkat kini membentang seperti abadi. Setiap derap langkah kuda terasa seperti pukulan di dada. Setiap desa yang dilewati mengingatkannya pada pencarian panjang yang berakhir dengan... kehilangan lagi. Bukan kehilangan karena kematian, tetapi kehilangan karena pilihan.Apa yang harus ia katakan pada Lady Evangeline? Kebenaran atau kebohongan?Jika ia mengatakan kebenaran—bahwa ia menemukan Felicity, bahwa ia hidup damai di desa terpencil, bahwa ia melepaskannya karena cinta—Lady Evangeline mungkin akan marah. Sangat marah.Jika ia berbohong—mengatakan tidak menemukan apa pun, bahwa pencarian gagal—maka ia menyelamatkan Felicity, tetapi juga mengkhianati kepercayaan Lady Evangeline. Dan kebohongan itu suatu saat akan terbongkar.Theron menghela napas berat, menatap langit senja yang mulai memerah. *Apa yang harus kulakukan?*---Kediaman Ashworth tampak lebih suram dari biasanya. Mungkin hanya perasaan Theron, atau mungkin memang suasana duka masih meny

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 193 Keinginanmu

    "Cinta?" ulang Sang Tuan, nada pahit. "Cinta tidak akan membiarkan yang dicintai menderita selama berabad-abad hanya karena kau tidak bisa melepaskan. Cinta tidak akan menciptakan mimpi buruk yang membuatnya trauma setiap malam. Cinta tidak akan menjadi bayangan menakutkan yang menghantuinya sepanjang hidup!"Setiap kata seperti tamparan. Alexander terhuyung mundur, jatuh kembali ke sofanya."Apa yang kau lakukan selama tiga abad, Alexander?" lanjut Sang Tuan. "Kau mengejar. Kau mengawasi. Kau campur tangan diam-diam. Dan akibatnya? Dalam setiap kehidupan, ia selalu mati muda. Selalu dalam ketakutan. Selalu dihantui oleh bayangan masa lalu yang tidak ia pahami."Ia menunjuk ke arah jendela Felicity. "Lihat kehidupan ini. Untuk pertama kalinya, ia menemukan kedamaian. Bukan karena kau, tapi karena dua petani tua yang tidak tahu apa-apa tentang masa lalunya. Dan ketika dihadapkan pada pilihan antara kembali ke kehidupan lamanya atau tetap di sini, ia memilih... ini. Kedamaian. Kesederha

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 192 Belenggu cinta

    Dimensi abu-abu itu berdenyut, menandakan kehadiran lain. Alexander tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang baru saja memasuki ruangannya. Kehadiran itu terlalu familiar, terlalu agung, terlalu... absolut."Anak baptismu ternyata jauh lebih hebat darimu."Suara itu bergema di seluruh dimensi. Dalam, berwibawa, dan mengandung sesuatu yang mirip dengan... ejekan? Atau mungkin kekecewaan?Alexander tetap duduk di sofanya, matanya tidak lepas dari jendela yang menampilkan Felicity dan Theron. Keduanya masih duduk di ruang tamu sederhana itu, saling menggenggam tangan, dengan Martha dan Bernard di samping mereka."Kau yang membantunya, Tuan?" tanya Alexander, suaranya datar.Di belakangnya, sosok itu muncul bukan sebagai bayangan, tetapi sebagai kehadiran yang memenuhi seluruh ruangan. Sang Tuan, entitas yang lebih tua dari waktu itu sendiri, berdiri dengan tangan di belakang punggung. Wajahnya tidak pernah bisa diingat dengan jelas, berubah-ubah seperti air, tetapi matanya adalah cermin

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 191 Melepasmu

    Theron menelan ludah, berusaha menenangkan diri. "Felicity, aku..."Ia terisak, tubuhnya bergetar. "Aku sudah memilih mati karena aku pikir itu satu-satunya jalan keluar. Tapi takdir berkata lain. Takdir memaksaku hidup. Dan sekarang... sekarang aku menemukan kedamaian di sini, di desa kecil ini, dengan orang-orang sederhana ini. Apakah salah jika aku ingin bertahan di sini? Apakah salah jika aku tidak ingin kembali?"Pertanyaan terakhir itu menggantung di udara, tidak ditujukan pada siapa pun, tetapi untuk dirinya sendiri.Theron terdiam membatu. Kata-kata Felicity menghantamnya seperti gelombang. Selama ini ia berpikir bahwa membawa Felicity kembali ke kehidupan lamanya adalah hal yang benar. Tapi ia tidak pernah bertanya: *apa yang Felicity inginkan?*Ia teringat obrolan mereka dulu, saat Felicity bercerita tentang mimpinya—bukan tentang mesin atau inovasi, tetapi tentang kedamaian. Tentang tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa tekanan. Tentang rumah yang sesungguhny

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 190 Tak terbendung

    Ruang tamu rumah Martha dan Bernard sangat sederhana. Hanya beberapa kursi kayu, sebuah meja kecil, dan jendela yang menghadap ke ladang. Tapi pagi ini, ruangan sederhana itu menjadi saksi pertemuan yang akan mengubah segalanya.Felicity duduk di kursi dekat jendela, tangannya menggenggam erat tangan Martha. Wanita tua itu duduk di sampingnya seperti benteng terakhir, memberikan ketenangan melalui sentuhan hangatnya. Bernard berdiri di dekat pintu, sikapnya waspada namun tidak mengusir.Theron duduk di kursi seberang, Marcus berdiri di belakangnya seperti bayangan setia. Pria muda itu tampak berusaha keras untuk tetap tenang, meskipun matanya tidak bisa berpaling dari Felicity."Terima kasih sudah menerimaku," Theron memulai, suaranya hati-hati. "Aku tahu ini tiba-tiba. Tapi aku sudah mencarimu berminggu-minggu, Felicity. Sejak kau... sejak tebing itu."Felicity menunduk, tidak menjawab."Aku ingin kau tahu apa yang terjadi setelah itu,"

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 189 Kembali kosong

    Felicity tiba di rumah Martha dan Bernard saat malam hampir sepenuhnya turun. Langkahnya lambat, jauh berbeda dari semangatnya saat berangkat pagi tadi. Martha yang sedang menjahit di dekat lampu minyak langsung merasakan ada yang tidak beres."Nak?" panggilnya lembut. "Kau baik-baik saja?"Felicity menunduk, tidak menjawab. Ia duduk di kursi dekat perapian, memandangi api dengan tatapan kosong. Tatapan yang sama seperti minggu-minggu pertama ia di sini. Tatapan yang membuat hati Martha terenyuh.Bernard yang baru masuk dari kandang ikut terdiam. Ia bertukar pandang dengan istrinya, lalu duduk diam di kursinya, tidak berani bertanya.Beberapa saat berlalu dalam keheningan. Hanya suara api yang berderak dan jangkrik di luar yang terdengar."Aku... bertemu seseorang di hutan," kata Felicity akhirnya, suaranya lirih. "Dari kota."Martha dan Bernard diam, memberi ruang."Besok dia akan datang ke sini. Untuk... berbicara." Fe

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status