**** Aku tidak pernah berniat kembali ke rumah itu. Bahkan melintas di depan gerbangnya saja membuat dadaku sesak. Tapi hidup kadang memaksa kita menghadapi sesuatu yang paling ingin kita hindari. Pagi itu, ponselku bergetar saat aku sedang menidurkan Arka. Nama Ibu Indah ibu Bara muncul di layar. Jantungku langsung berdegup tak beraturan. Aku menatap layar itu lama. Ragu. Takut. Tapi pada akhirnya, aku mengangkat panggilan itu. “Aisyah,” suara beliau terdengar dingin, tanpa basa-basi. “Kamu di mana?” Aku menelan ludah. “Saya… di tempat aman, Bu.” “Datang ke rumah sekarang,” katanya tegas. “Kita harus bicara.” Nada itu bukan permintaan. Perintah. Aku menarik napas dalam. “Baik, Bu.” Telepon terputus. Tanganku gemetar. Aku memeluk Arka erat, mencium keningnya berkali-kali. “Ibu harus kuat, Nak,” bisikku. “Apa pun yang terjadi.” Beberapa jam kemudian, aku berdiri di depan rumah itu lagi. Rumah yang sama, tapi perasaanku sudah berbeda. Tidak ada lagi harapan. Ti
Baca selengkapnya