**** Pintu rumah itu tertutup pelan. Tidak ada suara bantingan. Tidak ada teriakan. Tidak ada sumpah serapah seperti yang sempat kutakutkan. Justru keheningan itulah yang membuat dadaku terasa aneh seperti ada sesuatu yang tertinggal, tapi aku terlalu keras kepala untuk mengakuinya. Aku berdiri di ruang keluarga, mematung. Tanganku mengepal tanpa sadar. “Mas…” suara Bela memecah keheningan. Ia bangkit dari sofa perlahan, satu tangannya masih setia memegangi perutnya. “Kamu nggak apa-apa?” Aku menghembuskan napas panjang. “Aku baik-baik saja.” Kebohongan. Aku berjalan menjauh, mendekati jendela. Tirai sedikit tersibak. Halaman rumah kosong. Tak ada bayangan Aisyah. Tak ada langkah tergesa. Ia benar-benar pergi. Begitu saja. “Mas nggak perlu terlalu dipikirkan,” kata Bela lembut sambil mendekat. “Aisyah cuma lagi emosi. Nanti juga balik sendiri.” Aku menoleh cepat. “Dia pergi sama Arka.” Bela terdiam sesaat. Lalu tersenyum tipis. “Justru itu. Seorang ibu pasti miki
Last Updated : 2026-01-02 Read more