Waktu berlalu begitu cepat tanpa benar-benar kusadari. Sore merambat pelan, matahari mulai condong ke barat, menyisakan semburat jingga di langit halaman rumah Ayah mertua. Bara berdiri dari duduknya, menepuk ringan pahanya seolah memberi isyarat bahwa kebersamaan hari itu harus diakhiri. “Yah, sudah sore. Kami pamit pulang, ya,” ucap Bara sopan. Ayah menatap kami bergantian, lalu pandangannya jatuh pada Arka yang terlelap di gendongan Bara. “Kalian enggak nunggu ibu kalian pulang dulu?” “Enggak usah, Yah. Arka juga sudah waktunya mandi,” jawab Bara singkat. Nada suaranya terdengar tenang, tetapi aku tahu ada sesuatu yang sedang ia tahan. Aku menunduk, pura-pura memperhatikan wajah Arka. Aku tahu, sejak tadi ponsel Bara tak berhenti bergetar. Getarannya bahkan terasa sampai ke dadanya, tetapi Bara memilih mengabaikannya. Aku bisa menebak siapa di balik layar itu, dan entah kenapa dadaku terasa semakin sempit. “Ya sudah kalau begitu. Hati-hati di jalan,” kata Ayah akhirnya. “Iya,
آخر تحديث : 2025-12-18 اقرأ المزيد