Aku masih duduk di tempat yang sama ketika Bu Indah dan Bela bersiap meninggalkan ruangan. Udara di sekitarku terasa berat, seolah napasku ikut tertahan bersama perasaan yang sejak tadi kupendam. Mataku menunduk, jemariku saling mencengkeram, berharap lantai di bawah kakiku bisa menelan tubuhku sekalian. Sebelum benar-benar melangkah keluar, Bu Indah berhenti. Tatapannya beralih pada Bara, lalu perlahan berpindah padaku. Tatapan itu tajam, menusuk, seolah aku adalah kesalahan yang tak pernah ia terima sejak awal. “Bar,” ucap Bu Indah dengan suara tegas namun dingin, “kamu ingat, kan, istri kamu bukan cuma dia saja?” Tangannya terangkat, menunjuk ke arahku tanpa ragu. Dadaku mengencang. Kata-kata itu sederhana, tapi terasa seperti palu yang menghantam tepat di tengah hatiku. Aku tahu maksudnya aku diingatkan, diperingatkan, bahwa posisiku tak pernah sepenuhnya aman. Bahwa Bela juga istri Bara. Bahwa aku tak pernah berdiri sendirian di rumah ini. “Iya, saya tahu, Bu,” jawab Bara sin
Last Updated : 2025-12-14 Read more