**** Aku menatap wajah Aisyah dalam diam. Ada jarak yang lama terbentang di antara kami, bukan jarak fisik, melainkan jurang perasaan yang tercipta oleh kesalahanku sendiri. Malam itu, entah mengapa dadaku terasa penuh. Ada rindu yang tertahan, ada penyesalan yang selama ini kupendam rapat-rapat. Aku mendekat, perlahan, seakan takut satu gerakan kecil bisa membuatnya menjauh lagi. Bibirku menyentuh bibirnya awal yang ragu, lalu semakin dalam, semakin jujur. Ciuman itu bukan sekadar hasrat, melainkan luapan emosi yang terlalu lama terkunci. Aku bisa merasakan keterkejutannya, namun ia tidak menolak. “Aku menginginkanmu malam ini,” ucapku lirih, suara itu keluar sebelum sempat kupikirkan matang-matang. Kalimat itu bukan hanya tentang keinginan jasmani. Itu pengakuan. Tentang betapa aku masih menginginkannya sebagai istriku, sebagai perempuan yang dulu kupilih untuk menemani hidupku. Sudah lama aku tidak menyentuh Aisyah. Terakhir kali, bahkan aku membencinya mengingat kejadian
Terakhir Diperbarui : 2025-12-24 Baca selengkapnya