**** Pagi datang dengan langkah pelan, menyapu sisa-sisa malam yang melekat di sudut kota. Di depan kontrakan kecil bercat kusam, Aisyah sudah sibuk sejak subuh. Meja lipat sederhana digelar, panci nasi mengepul, aroma lauk rumahan telur balado, tempe orek, ayam kecap menyebar pelan di gang sempit itu. “Nasi rames, Bu?” tanya seorang tukang ojek yang berhenti. “Iya, Pak. Mau pakai sambal?” jawab Aisyah sambil tersenyum. Arka duduk di kursi plastik kecil di samping meja, memainkan sendok sambil sesekali menguap. Sesekali ia membantu membungkus nasi dengan tangan kecilnya yang masih canggung. Aisyah membiarkannya. Ia ingin Arka tumbuh dengan rasa ikut berjuang, tanpa tahu betapa keras dunia di luar sana. Ponsel Aisyah kembali bergetar di saku apron. Getarannya halus, tapi cukup untuk membuat dadanya menegang. Pesan misterius itu lagi. Kalimat-kalimat yang selalu datang tanpa nama, tanpa wajah. Ia tahu isinya, dan ia memilih tidak membuka. Aisyah menarik napas, lalu kembali men
Read more