**** Di tempat lain, Aisyah mulai menata hidupnya kembali perlahan, rapuh, namun penuh tekad bersama Arka, satu-satunya alasan ia masih bertahan. Rumah kecil yang kini mereka tempati tak megah, dindingnya polos dan perabotannya sederhana. Namun bagi Aisyah, tempat itu adalah ruang aman. Di sanalah ia dan Arka belajar hidup tanpa luka yang terus diungkit, tanpa bayang-bayang masa lalu yang menyakitkan. Aisyah duduk di lantai beralaskan tikar tipis, menghitung sisa bahan jualan yang ia beli sore tadi. Wajahnya terlihat lelah, matanya sembap, tetapi sorotnya tak lagi kosong. Arka duduk di sampingnya, memeluk boneka lusuh kesayangannya, menatap ibunya dengan mata polos yang membuat dada Aisyah sering kali terasa sesak. “Nak,” panggil Aisyah lembut, menghentikan hitungannya. Ia menoleh pada Arka dan tersenyum tipis. “Besok kita bisa jualan makanan di warung depan. Arka temani Ibu, ya?” Arka mengangkat wajahnya, lalu mengangguk pelan. Senyum kecil mengembang di bibirnya, senyum yang
Last Updated : 2026-01-07 Read more