แชร์

126.Suara dari Seberang

ผู้เขียน: Lusiana
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-14 15:58:46

****

Malam terasa lebih panjang dari biasanya. Arka sudah tertidur di sampingku, tubuh kecilnya meringkuk, satu tangannya masih menggenggam ujung bajuku seolah takut aku menghilang. Aku tak berani bergerak lama-lama, hanya menatap langit-langit dengan napas tertahan.

Bayangan Bela berdiri di depan pintu kontrakan itu terus berputar di kepalaku.

Aku meraih ponsel perlahan. Jemariku gemetar saat mencari satu nama yang sejak lama jarang kusentuh.

Dokter Aldi.

Aku menelan ludah, lalu mene
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Pernikahan Penuh Luka   200.Doa yang Kami Bisikkan

    **** Sudah tiga minggu sejak malam ketika aku dan Bara sama-sama mengucapkan kata ingin dengan hati-hati. Bukan ingin yang tergesa. Bukan ingin karena tuntutan. Tapi ingin yang lahir dari rasa cukup. Arka kini hampir setiap malam tidur di kamarnya sendiri tanpa drama panjang. Sesekali masih memanggil, “Bunda…” hanya untuk memastikan kami ada. Tapi ia tidak lagi berjalan sambil menyeret bantal ke kamar kami. Malam ini, setelah membacakan cerita tentang pahlawan kecil yang berani tidur sendiri, aku mengecup keningnya. “Bunda bangga,” kataku pelan. Arka tersenyum mengantuk. “Kalau aku punya adik, aku ajarin dia berani juga.” Dadaku menghangat. “InsyaAllah.” Ia memejamkan mata. Aku keluar kamar dengan langkah pelan, menutup pintu setengah seperti biasa. Di lorong, Bara sudah menunggu. “Tidur?” tanyanya pelan. Aku mengangguk. “Semakin jago.” Bara tersenyum, lalu tanpa banyak kata menggenggam tanganku dan membawaku ke kamar. Beberapa hal memang berubah setelah kami sepakat u

  • Pernikahan Penuh Luka   199.Rumah yang Kita Bangun

    **** Pagi pertama setelah pernikahan terasa… hening. Bukan hening yang canggung. Lebih seperti jeda panjang setelah kalimat yang akhirnya selesai diucapkan dengan benar. Aku terbangun lebih dulu. Cahaya matahari masuk dari sela tirai kamar yang semalam kami rapikan seadanya. Sinta masih tertidur di sampingku, wajahnya setengah tertutup rambut yang terurai. Aku menatapnya beberapa detik. “Istriku,” gumamku pelan, masih mencoba membiasakan diri dengan kata itu. Ia bergerak sedikit, lalu membuka mata perlahan. “Dok… ngapain lihatin orang tidur?” “Aku memastikan ini bukan mimpi.” Ia tersenyum malas. “Kalau mimpi, kamu terlalu detail. Semalam kamu ngorok sedikit.” Aku langsung mengernyit. “Aku nggak pernah ngorok.” “Saya saksi hidup,” jawabnya santai. Aku tertawa kecil, lalu bangkit duduk. “Selamat pagi, Bu.” “Selamat pagi, Pak,” balasnya lembut. Ada sesuatu yang berubah. Bukan rasa. Tapi kedalaman. Seolah-olah kami tidak lagi berdiri di dua sisi, melainkan di satu pijakan yan

  • Pernikahan Penuh Luka   198.Hari yang Telah Dipilih

    **** Hari pernikahan kami tinggal dua minggu lagi. Aku baru saja selesai rapat kecil dengan panitia ketika Sinta masuk ke ruang jaga dengan wajah serius. “Dok, saya baru ditelepon vendor dekorasi.” Aku langsung menoleh. “Kenapa? Mereka batal?” “Bukan.” Ia duduk di depanku. “Mereka tanya konsep final. Dokter masih mau yang sederhana, kan?” Aku tertawa kecil. “Sejak kapan kamu ragu?” “Sejak ibu saya bilang, ‘masa dokter nikah cuma begitu?’” tirunya dengan nada khas. Aku menggeleng. “Kita sepakat dari awal. Intim. Keluarga dan teman dekat.” Sinta menatapku beberapa detik. “Dok… kamu nggak merasa terlalu cepat?” Pertanyaan itu tidak terdengar ragu. Lebih seperti memastikan. “Sin,” kataku pelan, “kalau kamu menyesal, kita bisa tunda.” Ia langsung mengerutkan dahi. “Loh, siapa yang menyesal? Saya cuma memastikan kamu nggak merasa terburu-buru.” Aku bangkit dari kursi dan duduk di sampingnya. “Aku sudah lama hidup sendiri,” kataku jujur. “Untuk pertama kalinya, aku nggak meras

  • Pernikahan Penuh Luka   197.Undangan dengan Hati Penuh

    *** Aku selalu membayangkan setelah lamaran diterima, hidup akan langsung terasa ringan. Ternyata tidak. Bukan karena ragu. Tapi karena ada satu hal yang harus kulakukan sebelum melangkah lebih jauh. Mengundang mereka. Aisyah dan Bara. Aku duduk di ruang kerjaku, menatap layar ponsel cukup lama. Sinta yang sedang merapikan berkas di seberang meja memperhatikanku. “Dok, dari tadi lihat layar doang. Nggak jadi telepon?” tanyanya. Aku menghela napas. “Aku mau undang Aisyah dan Bara ke pernikahan kita.” Tangannya berhenti bergerak. Beberapa detik sunyi. “Dan itu bikin dokter tegang?” tanyanya hati-hati. “Aku nggak mau ada yang terasa menggantung. Aku nggak mau mereka dengar kabar ini dari orang lain.” Sinta berjalan mendekat, lalu duduk di sampingku. “Dok,” katanya lembut, “kalau dokter sudah benar-benar selesai dengan masa lalu, nggak ada yang perlu ditakutkan.” “Aku nggak takut kembali,” jawabku jujur. “Aku cuma takut membuat keadaan canggung.” Sinta tersenyum kecil. “K

  • Pernikahan Penuh Luka   196.Kali Ini Aku Memilih Lebih Dulu

    **** Aku selalu berpikir cinta yang besar harus terasa seperti badai. Mengguncang. Mengubah arah. Menghancurkan logika. Ternyata tidak selalu begitu. Bersama Sinta, semuanya terasa… tenang. Dan justru itu yang membuatku takut sekaligus yakin. Siang itu di ruang jaga, aku sedang menyelesaikan laporan pasien ketika Sinta masuk membawa dua gelas kopi. “Kopi hitam tanpa gula,” katanya sambil menyodorkan satu padaku. “Biar nggak terlalu manis. Hidup sudah cukup pahit.” Aku terkekeh. “Kamu sering ngomong bijak sekarang.” “Pengaruh dokter senior,” jawabnya santai. Aku menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya. “Kenapa?” tanyanya curiga. “Kamu capek nggak kerja sama saya terus?” Ia mengernyit. “Loh, kenapa nanya begitu?” “Aku cuma memastikan. Jangan sampai kamu bosan.” Sinta duduk di seberangku. “Dok, kalau saya bosan, saya pasti sudah pindah jaga dari dua bulan lalu.” Dua bulan. Waktu berjalan tanpa terasa. Dua bulan makan siang bareng. Dua bulan pulang hampir bers

  • Pernikahan Penuh Luka   195.Pintu yang Kupilih

    **** Kupikir setelah mobil Bela menjauh, malam itu benar-benar selesai. Ternyata tidak. Aku baru saja selesai menidurkan Arka kembali ketika ponselku bergetar pelan di atas meja nakas. Nama yang muncul membuat napasku tercekat. Dokter Aldi. Aku menatap layar itu cukup lama. Bara sedang di kamar mandi. Air mengalir, suaranya samar. Untuk sesaat, aku hanya duduk, memandangi nama itu seperti sedang melihat potongan masa lalu yang masih tersisa. Aku mengangkatnya. “Assalamualaikum, Aisyah.” Suaranya tetap sama. Tenang. Hangat. “Waalaikumsalam, Dok.” “Maaf mengganggu malam-malam. Aku cuma… ingin memastikan kamu baik-baik saja.” Aku tersenyum tipis, meski ia tak bisa melihat. “Saya baik, Dok.” Hening beberapa detik. “Aku dengar tadi ada sedikit keributan,” katanya hati-hati. “Orang kantor sempat cerita.” Aku menutup mata sejenak. Dunia ini memang kecil. “Sudah selesai,” jawabku pelan. “Dan saya memilih untuk tidak memperpanjang apa pun.” Ia menarik napas panjang di seberang

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status