Beranda / Rumah Tangga / Pernikahan Penuh Luka / 137.Meja yang Tak Pernah Netral

Share

137.Meja yang Tak Pernah Netral

Penulis: Lusiana
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-20 16:13:32

****

Untuk pertama kalinya sejak aku melangkah keluar dari rumah Bara, aku kembali duduk berhadapan dengan ibu mertuaku. Pertemuan yang bahkan sejak awal sudah kurasakan dinginnya, seperti udara yang sengaja dibiarkan menusuk tulang. Setelah semua yang mereka lakukan padaku, satu hal sudah kutetapkan: aku tidak akan mundur.

Aku menarik kursi dan mendekati meja yang sudah disediakan. Tanganku sedikit gemetar, bukan karena takut, melainkan karena marah yang kutahan rapat-rapat. Arka duduk di
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pernikahan Penuh Luka   198.Hari yang Telah Dipilih

    **** Hari pernikahan kami tinggal dua minggu lagi. Aku baru saja selesai rapat kecil dengan panitia ketika Sinta masuk ke ruang jaga dengan wajah serius. “Dok, saya baru ditelepon vendor dekorasi.” Aku langsung menoleh. “Kenapa? Mereka batal?” “Bukan.” Ia duduk di depanku. “Mereka tanya konsep final. Dokter masih mau yang sederhana, kan?” Aku tertawa kecil. “Sejak kapan kamu ragu?” “Sejak ibu saya bilang, ‘masa dokter nikah cuma begitu?’” tirunya dengan nada khas. Aku menggeleng. “Kita sepakat dari awal. Intim. Keluarga dan teman dekat.” Sinta menatapku beberapa detik. “Dok… kamu nggak merasa terlalu cepat?” Pertanyaan itu tidak terdengar ragu. Lebih seperti memastikan. “Sin,” kataku pelan, “kalau kamu menyesal, kita bisa tunda.” Ia langsung mengerutkan dahi. “Loh, siapa yang menyesal? Saya cuma memastikan kamu nggak merasa terburu-buru.” Aku bangkit dari kursi dan duduk di sampingnya. “Aku sudah lama hidup sendiri,” kataku jujur. “Untuk pertama kalinya, aku nggak meras

  • Pernikahan Penuh Luka   197.Undangan dengan Hati Penuh

    *** Aku selalu membayangkan setelah lamaran diterima, hidup akan langsung terasa ringan. Ternyata tidak. Bukan karena ragu. Tapi karena ada satu hal yang harus kulakukan sebelum melangkah lebih jauh. Mengundang mereka. Aisyah dan Bara. Aku duduk di ruang kerjaku, menatap layar ponsel cukup lama. Sinta yang sedang merapikan berkas di seberang meja memperhatikanku. “Dok, dari tadi lihat layar doang. Nggak jadi telepon?” tanyanya. Aku menghela napas. “Aku mau undang Aisyah dan Bara ke pernikahan kita.” Tangannya berhenti bergerak. Beberapa detik sunyi. “Dan itu bikin dokter tegang?” tanyanya hati-hati. “Aku nggak mau ada yang terasa menggantung. Aku nggak mau mereka dengar kabar ini dari orang lain.” Sinta berjalan mendekat, lalu duduk di sampingku. “Dok,” katanya lembut, “kalau dokter sudah benar-benar selesai dengan masa lalu, nggak ada yang perlu ditakutkan.” “Aku nggak takut kembali,” jawabku jujur. “Aku cuma takut membuat keadaan canggung.” Sinta tersenyum kecil. “K

  • Pernikahan Penuh Luka   196.Kali Ini Aku Memilih Lebih Dulu

    **** Aku selalu berpikir cinta yang besar harus terasa seperti badai. Mengguncang. Mengubah arah. Menghancurkan logika. Ternyata tidak selalu begitu. Bersama Sinta, semuanya terasa… tenang. Dan justru itu yang membuatku takut sekaligus yakin. Siang itu di ruang jaga, aku sedang menyelesaikan laporan pasien ketika Sinta masuk membawa dua gelas kopi. “Kopi hitam tanpa gula,” katanya sambil menyodorkan satu padaku. “Biar nggak terlalu manis. Hidup sudah cukup pahit.” Aku terkekeh. “Kamu sering ngomong bijak sekarang.” “Pengaruh dokter senior,” jawabnya santai. Aku menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya. “Kenapa?” tanyanya curiga. “Kamu capek nggak kerja sama saya terus?” Ia mengernyit. “Loh, kenapa nanya begitu?” “Aku cuma memastikan. Jangan sampai kamu bosan.” Sinta duduk di seberangku. “Dok, kalau saya bosan, saya pasti sudah pindah jaga dari dua bulan lalu.” Dua bulan. Waktu berjalan tanpa terasa. Dua bulan makan siang bareng. Dua bulan pulang hampir bers

  • Pernikahan Penuh Luka   195.Pintu yang Kupilih

    **** Kupikir setelah mobil Bela menjauh, malam itu benar-benar selesai. Ternyata tidak. Aku baru saja selesai menidurkan Arka kembali ketika ponselku bergetar pelan di atas meja nakas. Nama yang muncul membuat napasku tercekat. Dokter Aldi. Aku menatap layar itu cukup lama. Bara sedang di kamar mandi. Air mengalir, suaranya samar. Untuk sesaat, aku hanya duduk, memandangi nama itu seperti sedang melihat potongan masa lalu yang masih tersisa. Aku mengangkatnya. “Assalamualaikum, Aisyah.” Suaranya tetap sama. Tenang. Hangat. “Waalaikumsalam, Dok.” “Maaf mengganggu malam-malam. Aku cuma… ingin memastikan kamu baik-baik saja.” Aku tersenyum tipis, meski ia tak bisa melihat. “Saya baik, Dok.” Hening beberapa detik. “Aku dengar tadi ada sedikit keributan,” katanya hati-hati. “Orang kantor sempat cerita.” Aku menutup mata sejenak. Dunia ini memang kecil. “Sudah selesai,” jawabku pelan. “Dan saya memilih untuk tidak memperpanjang apa pun.” Ia menarik napas panjang di seberang

  • Pernikahan Penuh Luka   194.Bayangan yang Belum Usai

    **** Kupikir malam itu akan berakhir tenang. Ternyata aku salah. Baru saja Arka kembali tertidur dan Aisyah membereskan dapur, ponselku bergetar. Nama yang muncul di layar membuat dadaku mengencang. Bela. Aku menatap layar itu beberapa detik. Aisyah melihat dari kejauhan. “Dia?” Aku mengangguk pelan. “Angkat,” katanya tenang. “Kamu yakin?” “Kalau kamu nggak angkat, dia akan cari cara lain.” Aku menekan tombol jawab dan langsung mengaktifkan pengeras suara. “Halo.” Suara di seberang terdengar serak. “Mas…” Aisyah berdiri tidak jauh dariku. Wajahnya tetap tenang, tapi aku tahu ia mendengarkan setiap kata. “Ada apa, Bela?” tanyaku datar. “Aku di depan rumah kamu.” Jantungku seperti berhenti sepersekian detik. “Apa?” suaraku meninggi tanpa sadar. Aisyah menatapku tajam. “Di depan?” “Iya,” jawab Bela pelan. “Aku cuma mau lihat kamu sekali lagi.” Aku langsung berjalan ke jendela dan mengintip lewat tirai. Sebuah mobil terparkir di seberang jalan. Lampu dalamnya menyala.

  • Pernikahan Penuh Luka   193.Ujian di Pintu Rumah

    **** Perjalanan pulang terasa lebih panjang dari biasanya. Setiap lampu merah seperti memberi waktu tambahan untuk pikiranku memutar ulang kejadian pagi tadi. Wajah Bela. Tangisan bayi itu. Tatapan karyawan. Dan nama Aisyah yang disebut dengan nada penuh tuduhan. Aku menggenggam setir lebih erat. “Kali ini aku nggak boleh salah langkah,” gumamku pelan. Ponselku bergetar lagi. Pesan dari Aisyah. Hati-hati di jalan. Sesederhana itu. Tidak ada tanda tanya. Tidak ada tuduhan. Justru itu yang membuat dadaku semakin sesak. Saat mobil berhenti di depan rumah, lampu teras sudah menyala. Pintu tidak langsung terbuka seperti biasanya. Tidak ada Arka berlari menyambut. Aku turun perlahan. Baru saja tanganku menyentuh gagang pintu, pintu itu terbuka dari dalam. Aisyah berdiri di sana. Wajahnya tenang. Terlalu tenang. “Kamu sudah makan?” tanyanya pelan. Aku menelan ludah. “Belum.” “Masuk dulu.” Nada suaranya datar, tapi tidak dingin. Aku melangkah masuk. Rumah terasa sunyi. Ark

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status