LOGIN**** Aku selalu berpikir cinta yang besar harus terasa seperti badai. Mengguncang. Mengubah arah. Menghancurkan logika. Ternyata tidak selalu begitu. Bersama Sinta, semuanya terasa… tenang. Dan justru itu yang membuatku takut sekaligus yakin. Siang itu di ruang jaga, aku sedang menyelesaikan laporan pasien ketika Sinta masuk membawa dua gelas kopi. “Kopi hitam tanpa gula,” katanya sambil menyodorkan satu padaku. “Biar nggak terlalu manis. Hidup sudah cukup pahit.” Aku terkekeh. “Kamu sering ngomong bijak sekarang.” “Pengaruh dokter senior,” jawabnya santai. Aku menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya. “Kenapa?” tanyanya curiga. “Kamu capek nggak kerja sama saya terus?” Ia mengernyit. “Loh, kenapa nanya begitu?” “Aku cuma memastikan. Jangan sampai kamu bosan.” Sinta duduk di seberangku. “Dok, kalau saya bosan, saya pasti sudah pindah jaga dari dua bulan lalu.” Dua bulan. Waktu berjalan tanpa terasa. Dua bulan makan siang bareng. Dua bulan pulang hampir bers
**** Kupikir setelah mobil Bela menjauh, malam itu benar-benar selesai. Ternyata tidak. Aku baru saja selesai menidurkan Arka kembali ketika ponselku bergetar pelan di atas meja nakas. Nama yang muncul membuat napasku tercekat. Dokter Aldi. Aku menatap layar itu cukup lama. Bara sedang di kamar mandi. Air mengalir, suaranya samar. Untuk sesaat, aku hanya duduk, memandangi nama itu seperti sedang melihat potongan masa lalu yang masih tersisa. Aku mengangkatnya. “Assalamualaikum, Aisyah.” Suaranya tetap sama. Tenang. Hangat. “Waalaikumsalam, Dok.” “Maaf mengganggu malam-malam. Aku cuma… ingin memastikan kamu baik-baik saja.” Aku tersenyum tipis, meski ia tak bisa melihat. “Saya baik, Dok.” Hening beberapa detik. “Aku dengar tadi ada sedikit keributan,” katanya hati-hati. “Orang kantor sempat cerita.” Aku menutup mata sejenak. Dunia ini memang kecil. “Sudah selesai,” jawabku pelan. “Dan saya memilih untuk tidak memperpanjang apa pun.” Ia menarik napas panjang di seberang
**** Kupikir malam itu akan berakhir tenang. Ternyata aku salah. Baru saja Arka kembali tertidur dan Aisyah membereskan dapur, ponselku bergetar. Nama yang muncul di layar membuat dadaku mengencang. Bela. Aku menatap layar itu beberapa detik. Aisyah melihat dari kejauhan. “Dia?” Aku mengangguk pelan. “Angkat,” katanya tenang. “Kamu yakin?” “Kalau kamu nggak angkat, dia akan cari cara lain.” Aku menekan tombol jawab dan langsung mengaktifkan pengeras suara. “Halo.” Suara di seberang terdengar serak. “Mas…” Aisyah berdiri tidak jauh dariku. Wajahnya tetap tenang, tapi aku tahu ia mendengarkan setiap kata. “Ada apa, Bela?” tanyaku datar. “Aku di depan rumah kamu.” Jantungku seperti berhenti sepersekian detik. “Apa?” suaraku meninggi tanpa sadar. Aisyah menatapku tajam. “Di depan?” “Iya,” jawab Bela pelan. “Aku cuma mau lihat kamu sekali lagi.” Aku langsung berjalan ke jendela dan mengintip lewat tirai. Sebuah mobil terparkir di seberang jalan. Lampu dalamnya menyala.
**** Perjalanan pulang terasa lebih panjang dari biasanya. Setiap lampu merah seperti memberi waktu tambahan untuk pikiranku memutar ulang kejadian pagi tadi. Wajah Bela. Tangisan bayi itu. Tatapan karyawan. Dan nama Aisyah yang disebut dengan nada penuh tuduhan. Aku menggenggam setir lebih erat. “Kali ini aku nggak boleh salah langkah,” gumamku pelan. Ponselku bergetar lagi. Pesan dari Aisyah. Hati-hati di jalan. Sesederhana itu. Tidak ada tanda tanya. Tidak ada tuduhan. Justru itu yang membuat dadaku semakin sesak. Saat mobil berhenti di depan rumah, lampu teras sudah menyala. Pintu tidak langsung terbuka seperti biasanya. Tidak ada Arka berlari menyambut. Aku turun perlahan. Baru saja tanganku menyentuh gagang pintu, pintu itu terbuka dari dalam. Aisyah berdiri di sana. Wajahnya tenang. Terlalu tenang. “Kamu sudah makan?” tanyanya pelan. Aku menelan ludah. “Belum.” “Masuk dulu.” Nada suaranya datar, tapi tidak dingin. Aku melangkah masuk. Rumah terasa sunyi. Ark
*** Pagi itu sebenarnya berjalan biasa. Aku datang lebih awal ke kantor, menyelesaikan beberapa berkas sebelum rapat mingguan. Kepalaku masih dipenuhi percakapan semalam dengan Aisyah. Pelan-pelan. Kata itu terus terngiang. Aku sedang menuang kopi ketika ponselku bergetar. Pesan dari Aisyah. Jangan lupa makan siang. Aku tersenyum kecil. Siap, partner. Baru saja aku duduk, suara gaduh terdengar dari luar ruanganku. Awalnya samar seperti bisik-bisik yang berubah jadi riuh. Lalu terdengar suara perempuan yang sangat kukenal. “Kalian semua harus tahu! Saya istrinya Bara!” Tanganku membeku. Tidak mungkin. Aku berdiri cepat dan membuka pintu ruang kerja. Di lobi kantor, Bela berdiri dengan bayi dalam gendongannya. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya memerah seperti habis menangis. Beberapa karyawan menatap dengan ekspresi campur aduk kaget, penasaran, sebagian jelas menikmati drama. “Bela?” suaraku rendah, menahan emosi. “Kamu ngapain di sini?” Ia langsung menoleh pada
**** Pagi itu datang tanpa drama. Aku bangun lebih dulu dari biasanya. Cahaya matahari menyusup lewat celah tirai, menyentuh wajah Arka yang masih terlelap di tengah kasurnya. Bara masih tertidur di sisi lain, napasnya teratur. Aku memperhatikannya beberapa detik. Dulu, melihatnya tidur seperti itu terasa biasa saja. Sekarang, ada perasaan lain bukan cinta yang meledak-ledak, tapi sesuatu yang lebih tenang. Seperti keputusan yang diulang setiap hari. Bara bergerak pelan, lalu membuka mata. “Kamu ngapain lihat-lihat aku begitu?” suaranya serak. “Aku lagi memastikan.” “Memastikan apa?” Ia menyipitkan mata. “Masih orang yang sama nggak.” Ia tersenyum kecil. “Dan?” “Masih. Cuma versi lebih sadar dosa.” Bara tertawa pelan. “Itu kemajuan.” Aku bangkit dari kasur. “Bangun. Kamu janji mau bikin sarapan.” Ia langsung duduk. “Serius kamu ingat?” “Janji investasi kepercayaan, kan?” Ia mengangkat kedua tangan. “Baik, Bu Direktur Kepercayaan.” Di dapur, Bara terlihat terlalu seriu







