Share

231 - Ujung Pisau

Author: Luna Maji
last update Last Updated: 2026-02-10 12:36:11

Pintu tua itu berderit pelan saat terbuka.

Shangkara melangkah keluar, tatapannya langsung menangkap situasi. Ren berdiri tegang, dan seorang gadis asing bersandar santai di dinding seberang dengan mata yang tajam.

“Dia bilang kita akan dirampok malam ini,” lapor Ren singkat tanpa menoleh. “Kalau tidak ikut dengannya.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Carisa
ga sah shangkar yg turun, cailin aja mah sebentar ngatasin itu.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    231 - Ujung Pisau

    Pintu tua itu berderit pelan saat terbuka.Shangkara melangkah keluar, tatapannya langsung menangkap situasi. Ren berdiri tegang, dan seorang gadis asing bersandar santai di dinding seberang dengan mata yang tajam.“Dia bilang kita akan dirampok malam ini,” lapor Ren singkat tanpa menoleh. “Kalau tidak ikut dengannya.”Shangkara menatap Leila sejenak.“Kau yang bicara?” tanya Shangkara datar.Leila mengangguk kecil. “Aku yang bicara.”“Kenapa?”“Karena calo tadi punya mulut besar,” jawab Leila ringan. “Dan karena kalian terlalu bodoh untuk orang asing &

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    230 - Kota Bawah

    Malam itu, bulan tertutup awan tebal. Udara di ngarai sempit itu berbau campuran antara kotoran unta, rempah busuk, dan keringat.Sebuah rombongan kecil berhenti di pos pemeriksaan darurat. Bukan gerbang emas Saharath yang megah, melainkan pos kayu reyot yang dijaga oleh prajurit-prajurit buangan yang matanya merah karena kurang tidur dan mabuk arak murah.“Berhenti!” bentak seorang penjaga, mengacungkan tombak tumpul.Ren, yang duduk di kursi kusir, menatap penjaga itu datar, namun otot rahangnya mengeras. Ia menahan tangannya agar tidak menyentuh gagang pedang.Dari dalam kereta, sebuah tangan pucat namun kuat menyentuh bahu Ren.“Tenang,” suara Shangkara terdengar datar.

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    229 - Jalur Tikus

    Ruang komando darurat Benteng Perbatasan Timur dipenuhi bau debu dan keringat. Di atas meja kayu terbentang peta besar Kerajaan Saharath, ditandai bidak hitam dan merah.Shangkara berdiri di ujung meja. Wajahnya masih pucat sisa racun, namun matanya tajam.Di sekeliling meja, para Jenderal Vermilion telah berkumpul. Ren berdiri di sisi kanan Shangkara. Lian bersandar di dekat peta angin dan jalur logistik. Cailin duduk tenang, tangannya terlipat di depan dada. Kapten Jiro dan dua jenderal berdiri berhadap-hadapan dengan ekspresi tegang.“Kita tidak akan menyerang gerbang depan,” kata Shangkara datar. Jarinya menelusuri garis tipis di peta yang meliuk menjauhi istana utama. “Itu bunuh diri. Kita akan masuk lewat sini.”“Jalur perdagangan gela

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    228 - Satu Malam

    Cahaya pagi menerobos masuk melalui celah-celah kain tenda yang ditambal seadanya. Udara di dalam tenda terasa dingin dan berbau sisa obat herbal yang hangus.Cailin terbangun dengan leher kaku. Ia tertidur dalam posisi duduk di samping pembaringan darurat, tangannya masih menggenggam jemari Shangkara.Ia mengerjap, menyesuaikan mata dengan cahaya remang. Hal pertama yang ia lakukan adalah memeriksa nadi di pergelangan tangan Shangkara.Denyutnya lemah, namun stabil. Aliran Qi-nya tenang, tidak lagi memberontak seperti badai api kemarin.Cailin menghela napas lega. Tatapannya beralih ke wajah Shangkara yang masih terlelap. Ada jejak air mata yang mengering di sudut matanya.“Bahkan dalam tidur, kau tidak bisa lari d

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    227 - Penawar Jiwa

    Beberapa jam kemudian, Shangkara bangkit dari pembaringannya.“DI MANA DIA?!” teriak Shangkara. “DI MANA SULTAN?!”Tenda medis bergetar.Hawa panas tak beraturan keluar dari tubuh Shangkara, mengubah udara menjadi panas yang menyengat paru-paru. Matanya terbuka—merah Vermilion—namun kosong. Tidak fokus. Tidak mengenali.Kesadarannya telah direbut racun sepenuhnya.Semburan api liar meledak dari tubuh Shangkara.Tang O dan para tabib Klan Bulan terlempar mundur karena gelombang panas itu. Tenda medis mulai berasap. Meja obat terbakar.“Yang Mulia! Sadarlah!”

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    226 - Bertahanlah!

    Kereta kuda spiritual itu melesat seperti anak panah menembus jalur hutan. Roda-rodanya yang dilapisi mantra angin hampir tidak menyentuh tanah, membuat perjalanan yang biasanya memakan waktu dua hari bisa ditempuh dalam hitungan jam.Di dalam kereta, Cailin duduk tegak. Wajahnya pucat, tangannya mencengkeram lutut untuk menahan guncangan. Di sampingnya, Ritzu dan dua tabib senior Klan Bulan bersiaga dengan kotak obat.“Kita akan sampai dalam dua jam lagi, Putri,” lapor kepala pengawal dari luar jendela. “Ngarai ini adalah jalur tercepat, tapi—”ZING!Sebuah panah hitam melesat dari kegelapan hutan, menancap tepat di leher kuda spiritual sebelah kiri.Kuda itu menjerit, limbung, dan jatu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status