Share

230 - Kota Bawah

Penulis: Luna Maji
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-09 12:09:46

Malam itu, bulan tertutup awan tebal. Udara di ngarai sempit itu berbau campuran antara kotoran unta, rempah busuk, dan keringat.

Sebuah rombongan kecil berhenti di pos pemeriksaan darurat. Bukan gerbang emas Saharath yang megah, melainkan pos kayu reyot yang dijaga oleh prajurit-prajurit buangan yang matanya merah karena kurang tidur dan mabuk arak murah.

“Berhent

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    230 - Kota Bawah

    Malam itu, bulan tertutup awan tebal. Udara di ngarai sempit itu berbau campuran antara kotoran unta, rempah busuk, dan keringat.Sebuah rombongan kecil berhenti di pos pemeriksaan darurat. Bukan gerbang emas Saharath yang megah, melainkan pos kayu reyot yang dijaga oleh prajurit-prajurit buangan yang matanya merah karena kurang tidur dan mabuk arak murah.“Berhenti!” bentak seorang penjaga, mengacungkan tombak tumpul.Ren, yang duduk di kursi kusir, menatap penjaga itu datar, namun otot rahangnya mengeras. Ia menahan tangannya agar tidak menyentuh gagang pedang.Dari dalam kereta, sebuah tangan pucat namun kuat menyentuh bahu Ren.“Tenang,” suara Shangkara terdengar datar.

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    229 - Jalur Tikus

    Ruang komando darurat Benteng Perbatasan Timur dipenuhi bau debu dan keringat. Di atas meja kayu terbentang peta besar Kerajaan Saharath, ditandai bidak hitam dan merah.Shangkara berdiri di ujung meja. Wajahnya masih pucat sisa racun, namun matanya tajam.Di sekeliling meja, para Jenderal Vermilion telah berkumpul. Ren berdiri di sisi kanan Shangkara. Lian bersandar di dekat peta angin dan jalur logistik. Cailin duduk tenang, tangannya terlipat di depan dada. Kapten Jiro dan dua jenderal berdiri berhadap-hadapan dengan ekspresi tegang.“Kita tidak akan menyerang gerbang depan,” kata Shangkara datar. Jarinya menelusuri garis tipis di peta yang meliuk menjauhi istana utama. “Itu bunuh diri. Kita akan masuk lewat sini.”“Jalur perdagangan gela

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    228 - Satu Malam

    Cahaya pagi menerobos masuk melalui celah-celah kain tenda yang ditambal seadanya. Udara di dalam tenda terasa dingin dan berbau sisa obat herbal yang hangus.Cailin terbangun dengan leher kaku. Ia tertidur dalam posisi duduk di samping pembaringan darurat, tangannya masih menggenggam jemari Shangkara.Ia mengerjap, menyesuaikan mata dengan cahaya remang. Hal pertama yang ia lakukan adalah memeriksa nadi di pergelangan tangan Shangkara.Denyutnya lemah, namun stabil. Aliran Qi-nya tenang, tidak lagi memberontak seperti badai api kemarin.Cailin menghela napas lega. Tatapannya beralih ke wajah Shangkara yang masih terlelap. Ada jejak air mata yang mengering di sudut matanya.“Bahkan dalam tidur, kau tidak bisa lari d

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    227 - Penawar Jiwa

    Beberapa jam kemudian, Shangkara bangkit dari pembaringannya.“DI MANA DIA?!” teriak Shangkara. “DI MANA SULTAN?!”Tenda medis bergetar.Hawa panas tak beraturan keluar dari tubuh Shangkara, mengubah udara menjadi panas yang menyengat paru-paru. Matanya terbuka—merah Vermilion—namun kosong. Tidak fokus. Tidak mengenali.Kesadarannya telah direbut racun sepenuhnya.Semburan api liar meledak dari tubuh Shangkara.Tang O dan para tabib Klan Bulan terlempar mundur karena gelombang panas itu. Tenda medis mulai berasap. Meja obat terbakar.“Yang Mulia! Sadarlah!”

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    226 - Bertahanlah!

    Kereta kuda spiritual itu melesat seperti anak panah menembus jalur hutan. Roda-rodanya yang dilapisi mantra angin hampir tidak menyentuh tanah, membuat perjalanan yang biasanya memakan waktu dua hari bisa ditempuh dalam hitungan jam.Di dalam kereta, Cailin duduk tegak. Wajahnya pucat, tangannya mencengkeram lutut untuk menahan guncangan. Di sampingnya, Ritzu dan dua tabib senior Klan Bulan bersiaga dengan kotak obat.“Kita akan sampai dalam dua jam lagi, Putri,” lapor kepala pengawal dari luar jendela. “Ngarai ini adalah jalur tercepat, tapi—”ZING!Sebuah panah hitam melesat dari kegelapan hutan, menancap tepat di leher kuda spiritual sebelah kiri.Kuda itu menjerit, limbung, dan jatu

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    225 - Sisa Perang

    Matahari sudah tinggi, menyinari pemandangan yang tak ingin diingat siapa pun.Halaman benteng yang tadinya merupakan lapangan latihan yang rapi, kini berubah menjadi kawah dan puing-puing hitam. Asap masih mengepul dari sisa-sisa Gajah Perang yang lenyap. Bau daging terbakar tajam menusuk hidung.Ren berjalan tertatih melewati barisan prajurit yang terkapar. Wajahnya kotor oleh debu dan darah kering. Ia memegang papan laporan dengan tangan kotor debu.“Dua ratus tiga puluh tujuh gugur,” lapor seorang perwira dengan suara serak. “Hampir lima ratus luka berat. Gudang barat hancur. Gerbang utama tidak bisa dipakai lagi.”Ren mengangguk.“Prioritaskan yang masih bernapas,” katanya datar. &ldqu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status