Angin di lembah berhenti total. Tidak ada suara jangkrik, tidak ada desis daun. Semuanya diam. Terlalu diam. Bara berdiri di tengah dataran itu, matanya menatap langit kelabu yang perlahan merekah seperti kulit yang robek. Dari dalam celah retakan itu, muncul kabut hitam lembut, bergerak pelan, memutar, seolah mencari sesuatu. “Risa... Kael...” Bara memanggil pelan, tapi suaranya terpantul aneh. Seolah ruang di sekitarnya tidak lagi memantulkan suara manusia. Tidak ada jawaban. “Ah sial,” gumam Bara, napasnya mulai berat. Ia menutup mata, mencoba fokus, tapi dunia di sekitarnya berubah sebelum ia sempat menarik napas dalam. Tanah di bawahnya menghitam. Pohon-pohon menunduk seperti sedang berdoa. Dari permukaan air di depan Bara, muncul pantulan wajahnya sendiri, tapi kali ini, pantulan itu tidak mengikuti gerakannya. Bara menatap lekat. “Kau... siapa?” Pantulan itu tersenyum miring. “Aku? Aku adalah dirimu yang tidak lagi pura-pura tenang.” Suara itu berat, dalam, dan dingin
Last Updated : 2025-11-01 Read more