Raven tidak langsung menjawab. Ia menatap Selina sejenak, seolah menimbang seberapa banyak kalimat yang akan ia ungkapkan.“Kalau sudah waktunya,” katanya akhirnya, suaranya datar namun rendah, “aku bawa kamu ke sana.”Selina mengerjap. “Ke makamnya?”“Ke tempat dia beristirahat,” koreksi Raven pelan. Sudut bibirnya terangkat tipis. Sudut senyum itu tidak sepenuhnya sampai ke mata. “Kamu nggak perlu tahu sekarang. Yang penting ...” ia mengetuk ringan dada Selina dengan ujung jari, tepat di bawah kalung itu, “kamu sudah senang.”Selina ingin memaksa, ingin bertanya lebih dalam, tetapi ada sesuatu dalam cara Raven mengatakannya yang membuat pertanyaan itu tertahan di tenggorokan.Nada pria itu lebih seperti peringatan halus bahwa Selina telah menginjak batas aman.Raven meraih tangan Selina, meremasnya sebentar sebelum melepaskannya. “Sekarang,” katanya sambil kembali duduk santai, “seharusnya kita lanjut bahas pekerjaan, Sweetheart.”Kata terakhir itu diluncurkan begitu mudah, seolah t
Last Updated : 2025-12-08 Read more