“Waktu itu Selina buang ke tempat sampah, Pa.” Selina berkedip beberapa kali. Ia menarik napas pelan, menahannya di dada, lalu menghembuskannya pelan. Wajahnya dijaga tetap datar, seolah pertanyaan itu bukan apa-apa. Dusan langsung menoleh. “Tempat sampah yang mana?” “Yang di apartemen,” jawab Selina cepat. “Di ruang tengah.” Di bawah meja, kedua kakinya saling menyilang. “Habis Selina cabutin uban Papa, Selina bungkus pakai tisu, terus dibuang ke situ. Memangnya kenapa Papa tanya begitu?” Dusan terdiam sesaat. Tatapannya menyusuri wajah Selina, seperti sedang menimbang sesuatu. Beberapa detik kemudian, tangannya terangkat dan mengusap kepala menantu kesayangannya itu pelan. “Nggak apa-apa,” katanya akhirnya. “Papa cuma mau pastikan kamu buangnya benar." Sudut bibir Selina terangkat. Ia terkekeh kecil, suaranya terdengar santai. “Selina kan nggak pernah buang sampah sembarangan. Tapi, itu cuma uban aja, Pa, kenapa Papa khawatir banget?" "Nggak juga, Papa cuma takut nanti
Last Updated : 2025-12-09 Read more