“Dan akhirnya, si kelinci kecil menemukan keberaniannya,” suara Binar yang lembut mengalun di kamar rawat itu. Ardan dengan kepala yang masih dibalut perban, matanya terpaku pada gambar di buku, mendengarkan dengan serius.Binar sengaja mengalihkan perhatian Ardan agar dia mau menjalani sesi terapi tanpa harus dipenuhi dengan ketakutan.Sesi fisioterapi harian adalah tantangan. Ahli terapis membantu Ardan menggerakkan kaki dan tangannya yang masih lemah. “Aduh, sakit, Kak Bin,” rengek Ardan, wajahnya merengut.“Iya sayang, sakit dikit. Tapi biar nanti bisa lari kejar kupu-kupu dan tangannya bisa gambar lagi,” bujuk Binar sambil memegangi tubuh kecil itu dengan kuat namun lembut, mengikuti instruksi terapis. Ketika Ardan berhasil menggerakkan jari kakinya, sorak kecil Binar, “Hebat. Lihat, kamu bisa.” membuat mata Ardan berbinar bangga.Beruntung sesi itu bisa selesai dengan cepat.Sorenya, saat mereka baru saja selesai memakan camilan, Ardan memandangi Binar dengan tatapan serius.“Ka
Última atualização : 2026-02-05 Ler mais