LOGINMalam itu Binar menunggu Bhaga di ruang kerja.Duduk di sofa pojok dengan lampu kecil yang menyala. Matanya terus tertuju ke pintu, sesekali ke jam dinding. Jarum bergerak lambat, seperti sengaja memperlambat waktu. Dia mulai jenuh, tapi bersikeras tetap menunggu.Akhirnya Bhaga masuk jam sepuluh lewat. Setelan kerja masih melekat, tapi dasi sudah longgar. Rambut sedikit berantakan, menandakan hari yang panjang. Dia melihat Binar di sana. Ekspresinya tidak berubah banyak, tapi ada sesuatu yang bersiaga di balik matanya. Bahunya yang biasa turun setelah pulang kantor, kali ini tetap tegang."Kenapa di sini?""Mau bicara."Bhaga menutup pintu. Dia tidak duduk di sofa dekat Binar, tapi memilih kursi kerjanya. Melihat Binar dengan tajam dari balik meja, di seberang Binar. Menciptakan jarak yang disengaja. Binar melihat itu, tapi dia tidak berkomentar."Belakangan ini," mulai Binar, "kamu semakin menjauh."Bhaga tidak langsung menjawab. Jarinya mengetuk pelan di atas meja, menggenggam pena
Malam itu kamar terasa lebih dingin dari biasanya. Binar lagi-lagi bertanya dengan suara lembut tapi penuh kekhawatiran, “Kamu kenapa, sih, akhir-akhir ini berubah? Kamu menjauh, marah-marah kecil, lebih banyak diam, dan kayak ada yang kamu pendam.”Bhaga merasa dadanya sesak. Pertanyaan itu seperti pisau yang terus menusuk luka trauma pengkhianatan yang belum sepenuhnya bisa dia terima. Dia lelah. Karena terus ditanyai, berpura-pura kuat, dan kehilangan energi setiap kali Binar mendekat. Hal itu membuatnya terus mengingat, bahwa orang terdekat justru yang paling mengecewakan.“Aku nggak apa-apa,” jawab Bhaga pendek, suaranya datar. Tapi matanya berubah gelap ketika menatap Binar. Tanpa banyak kata, dia menarik tangan Binar kasar dan membawanya ke ranjang.Aku nggak mau dipertanyakan lagi. Kalau aku cerita, kamu pasti kuatir. Lebih baik aku lepaskan semua ini lewat tubuh kamu. Maaf, Bin… tapi malam ini aku butuh kamu dengan keras.Binar sempat kaget dengan tarikan Bhaga, tapi dia meng
“Lepaskan saja emosimu itu. Jika memang ingin marah, marahlah.” Suara Binar pecah lebih dulu di tengah kamar yang terlalu sunyi. Sejak kemarin mereka tidak bisa mengobrol dengan santai karena Bhaga masih tegang dan seperti menghindar karena tak ingin salah kata. Bhaga baru saja masuk lima menit lalu. Jasnya masih tergeletak di kursi. Jam tangannya diletakkan sembarangan di meja nakas, sesuatu yang hampir tidak pernah dia lakukan. Pria itu berdiri di dekat jendela dengan tangan di saku celana. Punggungnya membelakangi ranjang. “Aku tidak apa-apa.” Jawabannya cepat dengan nada datar. Justru itu yang membuat dada Binar makin sesak. Binar menatap punggung laki-laki itu lama. Biasanya Bhaga akan memeluknya begitu masuk kamar. Minimal menyentuh pundaknya atau menariknya mendekat walau cuma sebentar. Namun sejak pulang kerja kemarin, tidak ada semua itu. Bhaga terasa berada di pikirannya sendiri. “Aku tahu kamu capek,” kata Binar pelan. “Tapi kenapa sikapmu beda begini?” Bhaga menge
“Ada masalah di kantor?” Binar akhirnya bertanya itu di malam ketiga, karena sudah tak tahan melihat wajah Bhaga yang makin kusut. Pria itu murung dan banyak menghabiskan waktunya di ruang kerja, bahkan melewatkan waktu makan. Bhaga yang sedang membuka kancing di pergelangan lengannya berhenti sebentar. Hanya sebentar dan menjawab tanpa repot menoleh pada Binar. “Sedikit.” Jawaban pendek yang menyebalkan, tapi itu artinya Bhaga belum mau membahas.Binar merapatkan bibirnya setelah menghela napas pelan. Dia yang sedang berdiri di samping meja makan memilih kembali fokus menuangkan teh panas ke cangkirnya. Aroma teh melati langsung memenuhi ruang makan di tengah malam itu.“Berat?” tanya Binar pelan sambil melirik ragu.Bhaga menarik kursi lalu duduk dengan tenang. “Masih bisa ditangani. Tenanglah.” Binar mengangguk kecil. Tidak memaksa lagi. Dia sudah cukup lama hidup di dekat pria itu untuk tahu kapan sebuah pertanyaan boleh dilanjutkan dan kapan harus berhenti. Bhaga bukan tip
Senin pagi, Bhaga sengaja datang lebih awal karena akan meninjau kerja sama yang akan di resmikan. Namun sebelum itu, dia butuh membaca ulang persiapannya agar tak terjadi kesalahan walau sekecil apa pun.Bhaga baru turun dari mobil saat Rudi muncul dengan cepat dari arah lobi utama. Langkahnya panjang, wajahnya tegang, tablet masih ada di tangan.Melihat itu saja, sudah cukup membuat Bhaga tahu ada sesuatu yang tidak beres.“Ada apa?” Tanya Bhaga tanpa menghentikan langkah.Rudi langsung berjalan di sampingnya. “Dokumen akuisisi Nusa bocor, Pak.”Langkah Bhaga melambat tapi dia tak berhenti. Wajahnya tetap lurus ke depan, meski matanya berkedip tak tenang. “Sejak kapan?”“Tadi malam. Kami dapat info jam lima pagi dari mitra Surabaya. Saya langsung cek silang dengan tim keamanan data sebelum Bapak datang.”Tatapan Bhaga semakin tajam menatap ke depan. Rahangnya mengeras tipis, tapi suaranya penuh ketegasan yang tersembunyi. “Sudah tersebar?”“Informasi itu masuk ke dua grup tertutup k
“Bhaga…”Suara Binar terdengar pelan saat masuk ke ruang kerja itu.Bhaga yang sedang membaca laporan di meja kerjanya langsung mengangkat kepala. Lampu ruangan redup. Hanya lampu meja yang menyisakan cahaya terang di sudut ruang.“Kamu belum tidur?”Binar menutup pintu pelan di belakangnya. Wajahnya terlihat lelah.“Aku mau ngomong sebentar.”Bhaga langsung menutup map di depannya tanpa bertanya macam-macam. Tatapannya mengikuti Binar yang berjalan pelan menuju sofa.Binar duduk. Tangannya saling menggenggam di pangkuan. Tidak langsung bicara.Bhaga menunggu. Ruangan itu terlalu tenang sampai suara jam dinding terdengar jelas.“Kamu pernah bilang hati-hati,” ucap Binar akhirnya.Bhaga menyandarkan tubuh ke kursinya. “Iya.”“Aku tidak hati-hati.”Nada suaranya datar dengan wajah sesendu itu membuat Bhaga menatapnya lebih serius.“Apa yang terjadi.”Binar mengembuskan napas pelan. Kepalanya menunduk sebentar sebelum akhirnya mulai cerita.“Aku datang telat ke rumah Kiara tadi.”Bhaga d
Binar tak bisa berhenti tersenyum. Hatinya sedang berbunga-bunga saat mengingat kembali percintaannya dengan Bhaga semalam. Pipinya memerah meski sedang sendirian di kamar.Setiap kali bayangan sentuhan Bhaga, bisikan sayang, dan keintiman yang mereka bagi muncul di benaknya, sebuah kebahagiaan yan
Pesta ulang tahun Ardan yang ke-6 berlangsung meriah.Ruang tamu rumah utama disulap menjadi lautan biru. Balon-balon berbentuk dinosaurus bergelantungan di setiap sudut, ada yang berbentuk T-rex, ada yang brontosaurus panjang melingkar di tiang teras. Spanduk kecil bertuliskan "HAPPY BIRTHDAY ARDA
Binar menghela napas lega dengan senyum puas. Akhirnya acara selesai dengan baik, walaupun tak begitu lama, tapi Ardan terlihat begitu bahagia. Begitu juga dengan anak-anak yang lain. Dia bersyukur bisa memberikan kenangan baru untuk Ardan.Dia berbalik, setelah mengantar tamu terakhir untuk pulang
Makan malam selesai tak begitu lama setelah obrolan mereka berakhir. Djati benar-benar tak memberikan jeda Binar untuk menolak bahkan untuk berpikir pun tidak ada.Dia hanya terus melontarkan kalimat motivasi, dan Binar lebih terbuka pandangannya.Sopir Djati mengantar Binar pulang.Sepanjang perja







