Celia terbaring tak berdaya di atas kasur sutra. Dia berulang kali mendengus kesal. “Bhaga sialan, dia kembali mengurungku.” Dia mengusak rambutnya dan menjerit frustrasi. Rasanya setiap sudut kamar megah itu menyempit, mencekiknya. Di beberapa sudut kamar, lensa kamera mengintip tak henti-hentinya, dan setiap pergerakannya pasti akan segera dilaporkan kepada Bhaga. Kebebasannya benar-benar lenyap. Dia memandang langit-langit kamar yang tinggi, matanya kosong. Pikirannya melayang kepada hasil USG yang disembunyikannya rapat-rapat. Sebentar lagi... sebentar lagi perutnya akan membesar, dan semuanya akan terbongkar, batinnya dengan getir. Bayangan akan diusir, dicampakkan, dan kehilangan segalanya—sisa martabat, akses kepada kekayaan, bahkan tempat berteduh—mulai menggerogoti pikirannya. "Apes banget... apa yang harus aku lakukan?" gumamnya lirih, suaranya serak dan penuh keputusasaan. Dengan energi yang tiba-tiba muncul dari rasa panik, dia bergegas bangun dan menuju ke kamar gan
Last Updated : 2025-11-23 Read more