MasukMereka tidak banyak bicara setelah itu. Benar-benar menikmati waktu kebersamaan mereka yang sudah lama tak dilakukan.Waktu berlalu, Binar beranjak ke dapur untuk menyiapkan makan malam, sementara Bhaga tetap diam di sofa sampai Ardan terbangun sendiri. Bocah itu sempat kebingungan saat sadar dia tidur di pangkuan papanya, sebelum akhirnya langsung mengeluh lapar.Bhaga langsung memegangi dan menggendong Ardan menuju meja makan. Ardan langsung protes karena merasa sudah bukan anak kecil lagi."Ardan bukan bayi, Pah!""Iya, tahu. Tapi papa lagi mau gendong."Meski terus protes, Ardan tidak benar-benar berontak atau minta turun.Dari arah dapur, Binar mendengar perdebatan kecil itu. Dia tidak menoleh, tapi ada rasa hangat yang mendadak memenuhi dadanya.Malam itu, setelah Ardan dipastikan tidur, Bhaga masuk ke kamar lebih awal dari biasanya. Dia bahkan tak terpikir untuk berbelok ke ruang kerja seperti sebelumnya.Binar yang sedang duduk di depan meja rias sambil melepas jepit rambutnya
Ardan menoleh. Pertanyaan itu terdengar asing, apalagi keluar dari mulut papanya yang jarang menanyakan hal-hal seperti itu. "Artinya apa?""Kalau Papa pulangnya malam terus, atau kalau Papa lagi sibuk, kamu enggak apa-apa?"Ardan menatap Bhaga, ekspresinya terlihat seperti berpikir sambil bersungut-sungut lucu. "Kan ada Bunda Binar," jawabnya akhirnya. "Kalau ada bunda, Ardan enggak apa-apa."Bhaga terdiam beberapa saat. Dia lupa Ardan sudah begitu lekat dengan Binar. Jika sampai Binar juga meninggalkan mereka seperti Celia, maka akan jadi apa mereka."Tapi kalau ada Papa, Ardan lebih seneng lagi," tambah Ardan dengan nada santai. Setelah itu, matanya sudah kembali fokus ke TV.Dia tak tahu kalau kalimatnya telah menohok Bhaga dengan dalam. Penyesalan mulai menyeruak perlahan di relung hatinya.Bhaga menatap anaknya yang menonton kartun dengan serius di sebelahnya. Anak yang masih dianggapnya bayi, sudah bisa bilang yang paling penting dengan cara yang paling sederhana.**Binar pula
Keesokan harinya, gerimis tipis mengguyur daerah Jakarta Barat.Bhaga turun dari mobilnya tepat di depan gerbang sebuah rumah duka bernuansa putih. Di kanan-kiri selasar, deretan karangan bunga sudah berjejer rapat, termasuk satu yang paling besar di dekat pintu masuk, kiriman darinya.Bhaga berjalan masuk dengan langkah tenang. Suasana di dalam ruangan sangat sunyi, hanya terdengar isak tangis samar dan gumaman doa dari beberapa pelayat yang datang lebih awal.Di ujung ruangan, di dekat peti mati yang masih terbuka, berdiri Hendra. Manajer seniornya itu kelihatan jauh lebih tua hari ini. Bahunya yang biasa tegak saat presentasi laporan kini merosot, matanya merah dan sembap, menatap kosong ke arah foto anak laki-lakinya yang tersenyum di atas meja altar.Begitu menyadari kehadiran Bhaga, Hendra tampak terkejut. Dia buru-buru menyeka matanya dan mencoba menegakkan tubuh."Pak... Pak Bhaga," suara Hendra serak, hampir habis. Dia menjabat tangan Bhaga dengan gemetar. "Terima kasih banya
Pintu depan terbuka, Binar masuk sambil menenteng tas. Di depan tadi, dia sempat tertegun begitu melihat mobil Bhaga ada di garasi, dan sekarang mendapati pria itu sedang duduk di sofa ruang tengah dengan kemeja yang lengannya sudah digulung. "Kamu sudah pulang?" tanya Binar heran. Dia melirik jam dinding, baru jam dua lewat sedikit. "Katanya tadi ada meeting siang?" "Aku minta Rudi batalin semuanya," jawab Bhaga dengan santai. Dia berdiri dari sofa, mengambil kunci mobilnya di meja. "Ayo. Katanya mau ke sekolah Ardan berdua?" Binar menatap Bhaga sebentar, dia mengernyit mencoba membaca ekspresi pria itu yang tampak lebih mawas dari biasanya. Namun, dia tidak bertanya lebih jauh. "Iya, sebentar. Aku taruh ini dulu." Dua puluh menit kemudian, mereka sudah sampai di sekolah Ardan. Suasana sekolah sudah mulai ramai oleh para penjemput karena jam pulang sekolah tinggal beberapa menit lagi. Bhaga dan Binar berjalan menyusuri koridor kelas menuju ruang guru. Langkah Bhaga yang tegap da
Bhaga terus memikirkan Ardan yang baru enam tahun. Butuh lima belas tahun lagi untuk sampai di usia anaknya Hendra. Lima belas tahun yang isinya pasti penuh cemas, melihat anaknya tumbuh besar, melewati masa remaja yang penuh hal-hal yang tidak bisa dia kendalikan, kemudian menjadi dewasa dan mungkin pergi ke kota lain atau negara lain seperti anak Hendra.Lima belas tahun yang terasa panjang, tapi juga bisa terasa singkat jika dia terus menjalaninya dengan cara yang sama seperti sekarang. Bersama.Helaan napas berat, Bhaga hembuskan. Berusaha melegakan dada yang penuh sesak.Dia melirik sekilas ke arah Rudi "Kirim santunan dari saya pribadi ke Pak Hendra sekarang. Jangan tunggu besok," perintah Bhaga, suaranya agak berat. "Pastikan semua kerjaannya minggu ini dialihkan ke yang lain. Jangan ada yang ganggu soal urusan kantor.""Baik, Pak. Segera saya urus." Rudi mengangguk, mencatat di tabletnya dengan cepat, lalu keluar dari ruangan. Pintu ditutup pelan.Bhaga masih duduk di kursiny
Binar tidak menjawab dengan kata-kata. Dia cuma tersenyum tipis, berdiri dari kursinya, dan berjalan duluan masuk ke dalam rumah tanpa menoleh lagi. Bibirnya tersenyum puas saat mendengar langkah kaki di belakangnya.Iya. Bhaga langsung berdiri menyusul langkah Binar, menutup pintu kaca teras belakang dengan cepat, dan menguncinya.Begitu sampai di kamar, belum sempat lampu utama dimatikan, Bhaga sudah menarik pinggang Binar dari belakang. Tangannya melingkar, menarik tubuh Binar menempel ke dadanya.Binar berbalik dan langsung mengalungkan lengannya ke leher Bhaga, menarik pria itu mendekat. Tidak ada kata-kata, hanya napas yang mulai memburu.Malam yang tadinya berat karena urusan Ardan mendadak berubah haluan. Tidak ada kata-kata manis atau romantis. Gerakan mereka buru-buru, agak kasar, dan berantakan—didorong oleh rasa stres dan lelah yang menumpuk seharian. Bhaga mencium Binar dalam, sementara tangan Binar mulai menarik baju Bhaga hingga beberapa kancingnya terlepas begitu saja,







