Ayah Arion menghela napas panjang, pelan sekali. Seolah ia sengaja mengulur waktu, memberi ruang bagi setiap orang di sana untuk menaruh perhatian sepenuhnya—bukan sekadar duduk, tapi benar-benar menyimak.Dengan gerakan yang tenang, jemarinya merogoh saku dalam jasnya. Ia mengeluarkan sebuah amplop yang tampak bersahaja, namun terasa begitu sarat oleh makna.Smplop itu berwarna krem, sedikit kusam di sudut-sudutnya, seperti sesuatu yang sudah lama disimpan—bukan karena dilupakan, tapi karena menunggu waktu yang tepat.Semua mata langsung tertuju ke sana.Tanpa perlu diberi tahu, semua orang tahu—ini bukan sekadar kertas biasa."Ada satu hal," kata Ayah Arion akhirnya. Suaranya tenang, namun memiliki bobot yang jauh lebih dalam dari sebelumnya. "Sesuatu yang seharusnya sudah kita bicarakan sejak lama."Ia meletakkan amplop itu di atas meja. Jemarinya diam di sana beberapa saat, seolah masih enggan melepas apa pun yang tersimpan di dalamnya."Ini," lanjutnya perlahan, "adalah amanat
Read more