Di depannya berdiri seorang pria muda dengan napas yang masih memburu.Usianya tampak sebaya dengan Arion, penuh energi yang meluap.Wajahnya tegang, rahangnya mengeras, dan matanya menatap tajam siap melontarkan protes lebih jauh.Namun, gelombang konfrontasi itu mendadak patah di tengah jalan.Dari balik bahu Roy, di dalam keremangan kabin, Alena sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan.Ia tidak mengucap sepatah kata pun.Ia hanya memastikan wajahnya tertangkap sempurna oleh bias pucat lampu jalanan.Sebuah senyum tipis—sangat sopan namun memiliki daya pikat yang dalam—terulas di bibirnya.Seketika, kemarahan pria itu seperti tersedot keluar dan menguap ke udara malam.“Eh…” Pria itu berdeham, mendadak kehilangan kata-kata yang sudah di ujung lidah.Sorot matanya yang semula beringas kini melunak, bahkan berubah menjadi sedikit bingung.“Maaf, Om,” ucapnya pelan.Roy mengernyitkan dahi.Perubahan sikap yang drastis ini terasa janggal, hampir terlihat konyol jika situasinya tidak sed
Last Updated : 2026-04-15 Read more