Pintu tertutup rapat setelah Rafael pergi.Mikhail tidak langsung bergerak. Ia berdiri beberapa detik di tengah ruangan, mendengarkan gema langkah Rafael yang menjauh di lorong sayap lama. Ketika suara itu benar-benar hilang, barulah ia menghela napas panjang, napas yang sejak tadi ia tahan.“Anak bodoh,” gumamnya pelan. Ia tidak yakin itu ditujukan pada Rafael, Alexei, atau dirinya sendiri.Ia berjalan menuju lemari besi kecil di sudut ruangan yang ia buat sendiri. Bukan yang tadi ia buka untuk mengambil botol, melainkan yang tersembunyi di balik panel kayu retak di dinding. Ia menyentuh titik tertentu di sudut bingkai, menekan dua kali, lalu memutar baut kecil yang tampak seperti paku biasa. Panel itu terbuka perlahan, memperlihatkan kompartemen logam yang lebih tua dari sebagian besar bangunan markas.Di dalamnya, hanya ada tiga benda yang selalu ia bawa, sebuah map kulit tipis, sebuah flash drive tanpa label, dan foto lama yang sudah mulai menguning.Mikhail mengambil map kulit it
Last Updated : 2026-02-19 Read more