Udara malam menyambut Alexei dengan dingin yang menusuk, tapi tidak sedingin sesuatu yang baru saja runtuh di dalam dadanya.Saudara, kata itu terus berputar di kepalanya seperti peluru yang tak pernah berhenti menembus.Ia berjalan melewati halaman rumah Drazhan tanpa terburu-buru. Langkahnya stabil, bahunya tegak, wajahnya tetap tanpa ekspresi meski hatinya kacau. Pengawal di gerbang bahkan tidak melihat sesuatu yang berbeda.Alexei selalu seperti itu. Tenang, terkendali, dan tidak terbaca.Mobilnya sudah menunggu. Ia masuk tanpa sepatah kata. Sopir menyalakan mesin dan kendaraan bergerak menembus jalan kota yang hampir kosong.Lampu-lampu jalan melintas di kaca jendela, menciptakan bayangan yang bergerak di wajahnya.Di balik pantulan samar itu, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Alexei merasa benar-benar tidak siap menghadapi sesuatu.Ia pernah kehilangan orang. Ia pernah menyaksikan pengkhianatan. Ia pernah hampir mati tertimbun reruntuhan markasnya sendiri. Tapi tidak a
อ่านเพิ่มเติม