Ciuman mereka tidak berlangsung terburu-buru, tetapi sebuah kecupan yang menyelam dalam, seolah mereka sedang menenggelamkan seluruh emosi, badai, dan rindu dalam satu tarikan rasa. Celine memejamkan mata sepenuhnya, membalas lumatan itu dengan penuh kesungguhan yang pasrah. Pelukan Aldean di pinggang Celine terasa erat namun menenangkan, bukan mengekang. Cintanya membara, tetapi ada kelembutan protektif yang membungkus setiap inci sentuhannya. Pria itu sedang mencintai, bukan sekadar mengklaim. Celine semakin merapatkan tubuhnya. Ia bisa merasakan detak jantung Aldean—kuat, cepat, dan bergemuruh, seolah dada pria itu sedang mengeja namanya lewat tiap degupan. Akhirnya, Aldean perlahan menarik wajahnya, menatap sang istri lekat-lekat di bawah remang lampu kamar. Napas mereka masih saling berkejaran. Bukan karena lelah, melainkan karena debaran jantung yang menolak untuk tenang. Tangan Celine masih setia melingkar di leher kokoh Aldean, sementara jemari lentiknya menyisir l
Terakhir Diperbarui : 2026-07-10 Baca selengkapnya