Aldean memutar posisi duduknya menghadap pada Celine, lalu mengecup punggung tangan sang istri dengan begitu dalam dan lama. Sentuhan bibirnya terasa hangat, seolah sedang menyalurkan seluruh sisa kekuatan yang ia miliki setelah badai emosi di dalam kamar rawat tadi.“Kayra baik-baik saja, Sayang,” ucap Aldean, suara baritonnya kembali rendah, stabil, dan dipenuhi wibawa seorang suami yang menenangkan. Pria itu menjeda kalimatnya sejenak, menatap lekat-lekat sepasang netra bening Celine yang masih memancarkan sisa kecemasan.“Dia memintamu keluar tadi... bukan karena dia membencimu. Sama sekali bukan. Justru karena dia merasa sangat malu dan bingung di depanmu.”Celine tertegun, sepasang matanya mengerjap tidak mengerti. “Malu...? Bingung? Kenapa, Mas?”“Kamu tahu kan, Sayang... kalau kemarin aku sudah mengatakan semua kebenaran itu pada Kayra. Termasuk tentang apa yang dilakukan mamanya pada mamamu,” jawab Aldean pelan-pelan, masih menatap lekat-lekat mata Celine. “Dan apa yang aku
Zuletzt aktualisiert : 2026-06-14 Mehr lesen