“Nggak sih,” Rani terkikik. “Aku cuma bilang ciri-ciri kamu. Terus ada satu bapak-bapak, Pak Maman namanya, dia langsung nyaut. ‘Oh, Mas yang bawa ransel itu ya? Iya, saya yang antar. Ke kosan Bu Sukma yang catnya hijau lumut’. Ya sudah, aku langsung ke sini deh.”Joko menggeleng-gelengkan kepala takjub. “Kamu ini… niat banget. Persis detektif.”“Namanya juga usaha,” kata Rani sambil mulai membuka bungkusan bubur. Aroma gurih langsung memenuhi ruangan kecil itu. “Aku kan khawatir. Kamu pindah mendadak, nggak bilang-bilang, sendirian lagi. Aku takut kamu tidur di kolong jembatan.”Ia menatap sekeliling kamar Joko yang nyaris kosong melompong. “Dan ternyata… yah, nggak jauh beda sama kolong jembatan sih, tapi seenggaknya ada atapnya,” candanya, meskipun ada nada prihatin di matanya.Joko tersenyum kecut. “Yah, namanya juga darurat, Ran. Yang penting murah dan… tenang.”“Tenang apanya,” suara Khodam menyela. “Baru semalam kau didatangi wanita basah.”Joko mengabaikan Khodamnya. Ia duduk
Dernière mise à jour : 2025-12-07 Read More