Raga bergerak cepat. Ia meraih pakaiannya, mengenakannya asal tapi rapi, lalu membuka pintu kamar Gita dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara. “Mas, mau ke mana?” suara Gita terdengar pelan dari baliknya. Ia masih berdiri di dekat ranjang, dasternya dirapikan seadanya. “Mau liat Anita ke mana,” jawab Raga singkat sambil terus melangkah. “Aku ikut,” kata Gita refleks. Raga berhenti sejenak, menoleh. “Jangan. Kamu di sini aja. Aku bentar, nanti balik lagi.” Nada suaranya tegas tapi tenang. Gita tahu ia tidak bisa memaksa. Ia hanya mengangguk, ada cemas di wajahnya. “Yaudah… kamu hati-hati, Mas.” Raga sudah keburu keluar. Ia melangkah cepat menyusuri lorong. Begitu sampai di halaman, ia menghela napas, lalu berjalan menuju gerbang. Pintu gerbang sudah tertutup rapat, Raga membuka sedikit gerbang untuknya keluar. Raga melongok ke kanan. Jalanan sepi, hanya lampu jalan yang menerangi malam itu. Ia melangkah keluar, tanpa menutup kembali gerbang, lalu berjalan menyu
Last Updated : 2025-12-15 Read more