Raga berdiri di atas bangku kecil, satu tangan menahan ujung wallpaper, tangan satunya lagi meratakan permukaannya dengan kain kering. Dinding kamar Rahma perlahan berubah, motifnya mulai rapi tanpa gelembung. Rahma sendiri berjongkok di lantai, sesekali menyerahkan lem sambil memperhatikan hasilnya. “Mas, kurang pas yang itu,” kata Rahma sambil menunjuk sudut dinding. “Bagian situ masih miring.” Raga menunduk sedikit, menggeser posisinya. “Iya, ini bentar. Kalo keburu kering malah susah.” Rahma berdiri, menyender ke lemari kecil di sudut kamar. Nada suaranya berubah lebih santai, seperti obrolan yang sengaja ditunggu momennya. “Mas Raga tau nggak,” katanya pelan, “Wulan kemarin cerita ke aku.” Raga terkekeh kecil tanpa menoleh. “Cerita apaan lagi itu anak.” “Katanya,” Rahma melanjutkan, “semenjak ada penghuni baru si Elistia itu, Mas lebih sering ngobrol sama dia.” Raga berhenti sebentar, lalu tertawa kecil sambil menggeleng. “Ya ngobrol kan wajar lah, Ma. Masa ak
Last Updated : 2025-12-22 Read more