MasukAnindya menghela napas pendek. Bukan kesal. Lebih ke lelah menghadapi tuduhan, dan terlalu malas untuk verifikasi. “Maaf, Kak, aku dapat kerja bukan dengan menjilat. Aku dapat pekerjaan ini karena relasi.”“Oh, jelas,” sahut Isabella cepat, senyum sinis mengembang. “Relasi dari om-om kamu, ‘kan?”Nada itu sengaja dibuat ringan, tapi tajam. Beberapa orang di lorong mulai memperlambat langkah, pura-pura sibuk tapi telinga mereka jelas menangkap arah percakapan.Anindya mengangguk kecil, seolah mempertimbangkan. “Wah, ternyata gosip cepat menyebar ya,” katanya santai. “Tapi nggak apa-apa, memang itu faktanya.”Senyum Isabella mengembang setengah. “Nah, jujur juga akhirnya.”“Bedanya,” Anindya menyambung tanpa terburu-buru, “mereka nerima aku bukan karena kenal calon suami aku. Tapi karena wajah aku cocok sama produk mereka. Itu yang dicari brand, ‘kan?”Isabella tertawa pendek, hambar. “Percaya diri banget.”“Harus,” balas Anindya datar. “Soalnya kalau aku sendiri nggak percaya sama valu
“Ngapain kamu masih di sini?” Anindya menahan suaranya, tapi nadanya jelas tidak main-main. “Sana keluar. Debat lagi sama Mbak Ive kalau mau. Biar aku yang urus Elvio.”Arvendra menatap Anindya sesaat, lalu akhirnya menghela napas panjang. Emosinya memang belum turun sepenuhnya, tapi dia tahu Anindya benar.Usai perdebatan panas itu, Ivelle memilih turun ke kamarnya. Pintu kamar Elvio kini tertutup rapat, menyisakan udara yang masih tegang. Arvendra tetap di sana, berdiri beberapa langkah dari ranjang. Hari ini, Ivelle sudah terlalu sering melewati batas. Dan dia tidak suka itu.Beberapa detik berlalu sebelum Arvendra akhirnya duduk di sisi ranjang. Tangannya mengusap rambut Elvio perlahan, lebih hati-hati dari sebelumnya.“Jangan nyindir begitu dong, Sayang,” ucap Arvendra pelan, nada suaranya sudah jauh lebih rendah. “Ive memang keterlaluan. Dia nggak tahu prioritas.”Anindya tidak langsung menjawab. Dia merapikan selimut Elvio lebih dulu, memastikan tubuh kecil itu tertutup dengan
“Kita beli ponsel buat kamu dulu ya?” tawar Arvendra.Kini dia sudah duduk di kursi kemudi. Anindya di sebelahnya, masih memandangi layar retak itu, ibu jarinya mengusap sudut yang pecah seolah berharap garisnya menghilang.Usai fitting baju pengantin, mereka memutuskan langsung pulang. Takut Elvio menanyakan keberadaan mereka, meski ada Ivelle di vila. Arvendra bahkan memilih memesan makan malam secara daring, tidak ingin merepotkan siapa pun, terlebih setelah insiden mangkuk pecah sebelumnya.“Nggak usah, Mas. Masih bisa dipakai kok,” tolak Anindya. “Nanti aku ganti layarnya aja. Nggak perlu ganti ponselnya.”Arvendra melirik sebentar, menatap layar retak itu, lalu kembali menatap jalan di depannya. “Iya, memang masih bisa. Tapi menurut Mas, lebih baik diganti aja.”Anindya menghela napas kecil. “Mas ini kebiasaannya gitu. Ada yang rusak dikit, langsung diganti.”“Bukan soal rusaknya,” jawab Arvendra tenang. “Kata orang, jangan kebiasaan nyimpen barang yang retak. Katanya bawa energ
Anindya berdiri di ruang fitting gaun pengantin, dan kali ini, tidak ada bisik-bisik yang membuat bahunya mengeras. Tidak ada tatapan yang menimbang usianya, tubuhnya, atau masa lalunya. Yang ada hanya cahaya putih lembut, kain-kain yang digantung rapi, dan suasana tenang yang membuat napasnya kembali ke ritme normal.Ternyata, telepon tadi berasal dari wedding organizer. Mereka menemukan butik lain, lebih kecil, lebih privat, dan entah bagaimana terasa jauh lebih manusiawi.“Saya bantu pasang resletingnya, Nona,” ujar salah satu staf perempuan dengan senyum hangat.Anindya mengangguk. Gaun putih yang dipilihnya sederhana, dirancang untuk pesta outdoor. Potongannya bersih, jatuh mengikuti lekuk tubuh tanpa berusaha berlebihan. Tidak banyak payet, tidak berat.Rambut Anindya ditata setengah terikat. Beberapa helai dibiarkan jatuh membingkai wajahnya. Tidak ada mahkota, tidak ada hiasan besar, hanya dirinya versi yang utuh, yang tidak sedang membuktikan apa pun.“Kita bisa keluar sekara
“Mas, kamu terlalu kejam ngomongnya sama Mbak Ive,” ucap Anindya akhirnya, membuka percakapan.Kini mereka sudah berada di Ulu Cliffhouse. Angin laut membawa aroma asin yang lembut, sementara matahari turun perlahan ke garis cakrawala.Anindya duduk di sebelah Arvendra, punggungnya bersandar ringan pada kursi rotan. Gaun putihnya bergerak pelan tertiup angin, kontras dengan sosok pria di sampingnya yang tampak santai, tapi tetap memegang kendali penuh atas dirinya sendiri dan situasi.Arvendra meraih cocktail di depannya, meminumnya seteguk sebelum menjawab. “Kadang kita harus kelihatan sedikit kejam, biar seseorang tahu batasnya.”Anindya menoleh. Sorot mata hazel Arvendra tersembunyi di balik kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Lengan kemeja putihnya digulung ke siku, jam tangan mahal itu berkilau samar terkena cahaya senja. Wajahnya terlalu tenang untuk pria yang baru saja mematahkan harapan seseorang.Benar-benar definisi hot daddy, dan Anindya sadar betul betapa
“Ada apa?” suara Arvendra terdengar dari arah tangga.Langkahnya cepat tapi terkontrol. Begitu tiba di dapur, mata hazelnya langsung menangkap pecahan mangkuk di lantai, lalu kaki Ivelle yang mengangkat sedikit, darah tipis mengalir di pergelangan.“Mas, kakiku luka,” keluh Ivelle. Nada suaranya berubah menjadi lebih lembut, lebih rapuh.Arvendra tidak langsung menjawab. Tanpa komentar, dia berjalan ke dinding dapur dan membuka kotak P3K yang tergantung rapi di sana.“Duduk,” kata Arvendra singkat pada Ivelle.Ivelle menurut, wanita itu duduk di kursi. Arvendra berjongkok, membuka kotak P3K, mengambil kapas dan antiseptik.Sedangkan Anindya berdiri kaku di tempatnya. Dia menunggu. Menunggu Arvendra menoleh. Menunggu satu kalimat yang menenangkan atau setidaknya memastikan keadaan tidak salah paham. Namun, tidak ada.Bukan karena Arvendra memihak, tapi karena fokusnya memang hanya satu yaitu luka kecil yang harus diobati.“Perih,” keluh Ivelle saat antiseptik menyentuh kulitnya.“Diam







