Anindya nyaris berlari begitu memasuki rumah sakit, kalau saja tangan Sankara tidak sigap menahan lengannya.“Anin–pelan. Kamu lagi hamil,” tegur Sankara cepat, suaranya menahan panik yang sama besarnya.“Tolong lepasin aku,” balas Anindya, napasnya putus-putus. “Aku mau lihat Mas Arven.”Langkah Anindya tidak rapi. Sepatunya nyaris terseret. Pandangannya liar, mencari, menabrak wajah-wajah asing di lorong rumah sakit yang bau antiseptik dan dingin.Seorang petugas polisi mendekat, masih dengan seragam dinas.“Istri Pak Arvendra?” tanyanya hati-hati.Anindya menoleh sekilas. Hanya sekilas. “Di mana suami saya? Saya mau lihat dia sekarang.”“Ibu, kami perlu menjelaskan–”“Saya nggak mau dengar apa pun,” potong Anindya keras, hampir berteriak. “Saya mau lihat suami saya.”Petugas itu terdiam sesaat, lalu menoleh ke Sankara, menangkap isyarat tak terucap.“Saya jelasin ke Bapak saja,” katanya akhirnya.Sankara mengangguk kaku. Di belakang mereka, suara polisi itu terdengar datar, prosedu
Terakhir Diperbarui : 2026-02-12 Baca selengkapnya