Raya tersenyum tipis, sebuah seringai kecil yang menantang. Alih-alih menyambut pelukan Ares, ia justru bergerak mundur, merangkak di atas ranjang yang luas itu seolah-olah sedang bermain petak umpet. Namun, dengan gerakan yang jauh lebih cepat, Ares menyambar pergelangan kaki Raya, menariknya lembut hingga tubuh Raya kembali mendekat ke arahnya. Ares naik ke atas ranjang, menumpu tubuhnya dengan kedua tangan, mengurung Raya di bawahnya. Matanya melirik kotak perlengkapan yang berserakan di samping mereka. "Dari mana kamu mendapatkan ide untuk membeli semua ini, hm?" bisiknya tepat di telinga Raya, suaranya parau dan dalam. Raya melirik alat-alat itu, lalu kembali menatap mata Ares dengan polos namun menggoda. Ia mengedikkan bahu pelan. "Aku juga tidak tahu. Saat melihatnya, mereka terlihat... lucu? Jadi aku membelinya tanpa berpikir panjang. Aku hanya ingin memberimu sesuatu yang berbeda." Ares tertawa rendah, sebuah tawa yang bergetar di dadanya. Namun di balik tawa itu, ada s
Last Updated : 2026-02-01 Read more